Sunday, 20 March 2016

Wattpad

Hallo blogers cintaku.
Aku disini mau share Wattpad ku.
Nah mulau sekarang kalian bisa menikmati alur cerita yang aku karyakan di Aplikasi itu.

Wattpad ID: SyifaEm
Judul Story: Batasan Kita

Atau klik ---> http://w.tt/1pupQwN

Ditunggu komentar kalian....
Love you.

Friday, 4 March 2016

Read Sample 'Destiny: Take Me To Your Side'

Seorang gadis terlihat berjalan bahagia di sepanjang jalan pada malam yang cerah. Ia melihat ke sekelilingnya dengan senyum ceria. Ia berharap hal aneh itu tidak akan muncul lagi ketika ia sedang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya saat ini. Hal aneh yang dianggap dirinya gila oleh orang lain. Baru saja ia mengatakan di dalam hatinya, hal aneh itu secara tiba-tiba muncul kembali setelah satu tahun berlalu ia menjalankan rehabilitasi pada kejiwaannya.
Ia merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ia terhenti dari langkah kakinya dan memegang kepalanya erat-erat menahan rasa sakit yang dirasakannya. Ia berteriak sehingga membuat orang-orang yang berjalan melewatinya merasa terkejut dan menganggap bahwa dirinya tidak waras. Mereka pun menjauh dan hanya menyaksikan gadis muda itu berteriak kesakitan. Seketika ia kembali sadar dan segera berlari menuju persimpangan lampu merah Seoul. Sesampainya disana ia tidak melihat kejadian apa-apa.
        “Kau ini kenapa? Apa kau benar-benar sudah gila?” gadis itu memaki dirinya sendiri sambil memukuli kepalanya. “Na molla. Aku tidak ingin tahu lagi tentang apa yang terjadi di masa depan.”
Gadis itu pun berniat untuk pergi dari tempat tersebut. Namun tiba-tiba terdengar suara bunyi klakson mobil berulang-ulang yang membuat kepergiannya terhalang. Dan…. DDUAARR!! Suara tabrakan terdengar sangat kencang. Gadis itu berbalik arah dan melihat peristiwa kecelakaan itu dengan kedua matanya, persis seperti apa yang ia lihat dalam bayangannya ketika rasa sakit itu muncul.
=========
        (Menghela napas) “Setelah satu tahun aku terbebas dari hal aneh itu, sekarang ia kembali. Keajaiban itu muncul lagi dalam diriku. Keajaiban yang membuat orang-orang menganggap ku gila hingga tak percaya apa yang ku bicarakan. Sungguh menyebalkan mempunyai kekuatan seperti ini. Aku harus melihat apa yang tak seharusnya ku lihat. Tidak ada nasib baik yang mampu kulihat, selalu nasib buruk yang ku tembus. Mengetahui takdir seseorang sangat tidak kusukai. Entah aku harus memberitahunya atau mengabaikannya. Aku juga tidak mengerti mengapa Tuhan memberiku keajaiban ini. Kenapa kekuatan ini datang kembali padaku? Apa mungkin ini menjadi takdir yang tak bisa dihilangkan dari diriku, Bae Suzy?”
===========
Polisi pun mulai berdatangan. Aku masih berdiri di seberang jalan traffic light. Aku hanya menatap tanpa berkedip sekali pun. Ini mengingatkanku kembali pada peristiwa satu tahun silam. Peristiwa tragis yang menyebabkan aku kehilangan kedua orang tuaku serta adikku. Saat ku sedang memikirkan peristiwa itu, aku melihat tangan tergoyah lemas dari dalam mobil. Petugas pun tidak melihat itu. Aku berteriak memanggil nya namun petugas itu mengatakan biarkan pihak mereka yang mengurusnya. Namun aku tidak tahan karena laki-laki itu terus berteriak minta tolong karena kesakitan. Melanggar aturan, aku segera berlari menghampiri korban melewati garis batas kepolisian. Ternyata benar, laki-laki itu menahan besi dengan tangannya agar tidak mengenai kepalanya. Aku berusaha menyingkirkan besi-besi tersebut namun sangat sulit jika hanya seorang diri apalagi aku adalah wanita. Akhirnya petugas itu melihat dan datang mengevakuasi korban itu. Akhirnya ia berhasil dikeluarkan dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
        “Kerja yang bagus Suzy-ah.” kataku bangga kepada diriku sendiri sambil mengelus-elus rambutku.
Aku melanjutkan perjalananku untuk kembali kerumah setelah tertunda akibat takdir itu. Aku berjalan sambil meminum cola yang sempat ku beli di tengah jalan. Aku berhenti dan menunggu di pemberhentian bus. Akhirnya bus pun yang mengarah ke rumah ku datang. Aku berbaris menunggu giliranku untuk naik. Nasibnya, aku merasakan pusing pada kepalaku lagi dan melihat bayangan akan ada spanduk yang jatuh dan menimpa seseorang. Semua penumpang sudah di dalam bus dan sekarang giliranku untuk naik namun aku masih di luar sambil berpegangan pada badan bus.
        “Agassi, kau jadi naik tidak?” teriak Ajhussi (supir bus). Aku mengabaikannya. Aku melihat sekeliling. Dan ternyata di arah kiriku terlihat seorang laki-laki muda tengah berdiri dan tepat di belakangnya terdapat sebuah spanduk besi besar.
        “Mungkinkah…. Dia….?” gumamku. Tak lama aku melihat spanduk itu mulai bergoyang-goyang, menandakan sebentar lagi akan jatuh dan menimpa laki-laki yang sedang berdiri itu. Dan benar saja spanduk itu terlepas. Aku terkejut dan berteriak kepada laki-laki itu untuk menjauh tapi dihiraukan.
        DUUAARRRRR…..!
Spanduk itu jatuh ke tanah. Untungnya aku berhasil menyelamatkan laki-laki muda itu sambil beguling-guling bersama ke permukaan tanah. Kami berdua tergeletak. Tapi yang terjadi adalah;
        “Apa yang kau lakukan? Kau gila ya?” teriak laki-laki itu. Membuatku sedikit terkejut.
        “Apa yang kau lakukan? (tanyaku heran). Kami berdua segera bangun.
        “Mengapa kau mendorongku? Bagaimana kalau aku terluka?” katanya.
        “Hei, apa kau tidak lihat? Kau hampir saja lebih terluka jika aku tidak mendorongmu.” kataku juga marah sambil menunjuk spanduk jatuh itu.
        “Kau bisa saja hanya dengan meneriakiku. Aku bisa menjauh sendiri.” sangkalnya.
        “Apa kau pikun? Kau memakai headset. Aku sudah… Agh (teriak lenganku kesakitan) meneriakimu untuk menjauh tapi kau diam saja.” jawabku. “Ah, bukannya berterima kasih malah membuatku kesal.” tambah gumamku pelan.
Tak lama kemudian, dua mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti di pinggir jalan tepat kami berdua berdiri. Tidak hanya satu, sekitar tujuh orang lalu-lalang keluar dari dalam mobil dengan berpakaian jas hitam lengkap dipadu dengan pendengar suara di telinganya masing-masing. Melihat itu aku terkejut dan betanya-tanya apa yang terjadi. Apakah mereka penagih hutang? Orang-orang ini seperti yang di film-film action dengan tubuh berotot serta wajahnya yang garang.
        “Maafkan saya Tuan Kim Myungsoo. Gwaenchanh-assmika?” kata salah satu dari mereka.
        “Oh, gwaenchanh-a. Ayo pergi.” jawab laki-laki muda itu. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan tanpa berkata apapun.
MENINGGALKANKU!
        “Apa-apaan ini? Apa maksudnya? Tuan Kim Myungsoo? Apa dia seorang chaebol? Omo, tidak bisa dipercaya. Dan sekarang dia meninggalkanku sendiri? Tanpa berkata apapun? Aisshhh…” gumamku. “Oyy…” teriakku berusaha menghampiri laki-laki itu namun ditahan oleh para pria jas hitam itu.
        “Menyebalkan sekali. Beginikah caranya dia berterima kasih setelah aku menyelamatkan nyawanya? Tahu gitu, biarkan saja dia…. Aughhh! (bicara cepat dengan nada kesal) Bagaimana aku pulang sekarang? Itu tadi bus terakhir. Aahh sial sekali aku hari ini.” kataku menendang-nendang kaki tanpa benda.
***
Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku merasa sangat lelah untuk hari ini. Tidak hanya lelah karena kerja paruh waktu tetapi juga harus menyaksikan peristiwa yang menjijikan hari ini. Aku menghela napas dalam-dalam untuk meringankan pernapasan ku.
“Ouchh, sakit.” ucapku sambil memegang lengan kananku yang terasa sakit sehabis terguling-guling tadi yang ternyata meninggalkan luka. Aku segera mengobatinya. Pada saat ku sedang menyembuhkan lukaku tiba-tiba;
        “Eonnie.. Suzy oennie.” teriak Soojung memanggilku.
        “Kenapa?” balasku.
        “Kemarilah. Palli-palli.” teriaknya lagi.
Aku langsung keluar dari kamarku dan menghampirinya yang sedang menonton televisi.
        “Ada apa?” tanyaku.
        “Lihatlah eonnie. Apakah itu kamu?” kata Soojung sambil menunjuk berita yang tengah disiarkan. Berita itu memberitakan runtuhnya spanduk besi yang menimpaku beberapa waktu lalu. Dalam tayangannya, aku melihat diriku ada di dalam siaran.
        “Kapan mereka mengambil gambar itu?” gumamku.
        “Jadi itu benar kau eonnie? Wah daebak. Kamu menyelamatkan seorang anak chaebol. Anak dari pemilik perusahaan tambang terbesar di Seoul.” tambahnya.
        “Chaebol katamu? Laki-laki itu? Pantas saja dia bersifat manja dan tidak sopan seperti itu.” kataku kesal menatap televise, “Ngomong-ngomong, Soojung-ah kenapa kamu bisa ada disini?” tambahku.
        “Ahh, tadi aku mengantarkan makanan untukmu dari Eomma.” jawabnya.
       “Lain kali jangan masuk ke dalam rumah orang jika pemiliknya tidak ada.” kataku memberi pesan dan segera masuk ke dalam kamar.
Yap! Soojung adalah Yoedongsaeng. Jung Soojung. Seseorang yang sudah ku anggap seperti adik kandungku sendiri. Semenjak aku kehilangan sanak keluargaku, aku diasuh oleh keluarganya. Mereka adalah keluarga yang ku punya saat ini dan kami tinggal bersebelahan.
***
Keesokan harinya, aku bangun dari tidurku. Masih dalam keadaan terluka, aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Saat ini aku menginjak semester akhir dan akan segera menempuh ujian. Aku berangkat bersama Soojung yang kebetulan kami berdua satu sekolah. Tapi dia adalah hoobae. Kita naik bus untuk sampai di sekolah. Setibanya disana aku langsung masuk ke kelas dan duduk di kursiku pada barisan kedua dari depan.
      “Hei. Hei. Suzy-ah.” kata teman-temanku yang langsung mengerumuniku ketika aku datang.
      “K….Kenapa?” jawabku terbata-bata.
      “Apa itu benar kau yang menyelamatkan pangeran tampan?”
      “Pangeran tampan? Maksudmu?” jawabku heran.
      “Kau tidak tahu? Namamu menjadi terkenal di SNS setelah menyelamatkan laki-laki itu. Dan hebatnya lagi, dia adalah anak dari konglomerat di Seoul. Bukan hanya chaebol dia juga seorang model terkenal di Amerika. Wah, daebak beruntungnya kau bisa bertemu dengannya.” katanya dengan nada genit.
      “Model apanya.” kataku yang malas mendengarkan lanjutan dari ceritanya.
Tiba-tiba salah seorang namja masuk ke kelas sambil berteriak “Dia datang. Dia disini. Palli-palli.” Mengajak rekan-rekannya keluar untuk melihat seseorang yang datang. Aku pun ikut penasaran dan mengikuti mereka. Ketika di lorong sekolah, sudah banyak dari mereka yang mengerumuni jalan dan secara perlahan meminggirkan diri mereka ke samping seperti ingin memberi jalan kepada seseorang yang akan lewat. Tinggal aku seorang yang masih berdiri di tengah jalan. Teman-temanku memberitahuku untuk minggir tapi aku abaikan.
 Tiba-tiba, seseorang sudah berdiri di depanku. Dari sepatu yang kulihat dia pasti seorang laki-laki. Aku menatapnya dari bawah perlahan menuju ke atas. Pas tepat melihat wajahnya, aku terdiam melotot karena tersihir oleh aura ketampanannya yang luar biasa mengalihkanku. Namun, pandangan itu semakin lama memudar. Wajah yang ku lihat ini seperti tidak asing. Seperti aku pernah melihatnya.
        “Aku ingat. Kauuuu!!!!” teriakku sambil menunjuk ke arahnya. Teman-teman yang melihat tingkahku berteriak kaget.
        “Singkirkan tanganmu!” katanya sambil menurunkan tanganku.
        “Kau, kau kesini untuk bertemu denganku kan? Ah, apakah kau sudah sadar ada sesuatu yang tertinggal untuk kau ucapkan padaku?” kataku tersenyum genit.
        (Laki-laki itu memasang wajah sok keren) “Minggir!” dia mendorongku ke samping dan mengabaikanku begitu saja.
Emosionalku seketika memuncak dengan perlakuan dia terhadapku. Aku pun memanggilnya dengan tidak sopan. Tapi tetap diabaikan.
        “Wah, lihat kesombongannya. Menyebalkan sekali. Dasar anak manja. Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya.” gumamku.
        “Yaa! (Hei) Bae Suzy. Beraninya kau berbicara begitu tentang Myungsoo oppa.”
        “Hah? Oppa? (nada meledek) Hah, bisa gila aku lama-lama.” kataku segera pergi.
***
Aku kembali kekelas. Pelajaran pun akan segera dimulai. Seonsaengnim masuk ke dalam kelas sambil membawa buku yang akan diajarkan di tangannya. Namun, seluruh siswa di kelas masih membicarakan kedatangan anak baru laki-laki itu. Aku merasa muak dengan panggilan mereka yang terus memanggilnya Oppa…. Oppaa….
Aku yang mendengar kalimat itu sangat risih. “Oppa apanya? Dia lebih tua dari kita? Dipanggil Oppa? Bukankah seharusnya sudah kuliah jika ia dipanggil oppa. Lalu kenapa dia disini? Aneh.” gumamku.
***
Seusai sekolah, seperti biasa aku pulang menggunakan bus. Kali ini aku pulang bersama Soojung. Untungnya hari ini aku libur dari pekerjaan paruh waktukku….. Yaps! Aku memiliki banyak sekali pekerjaan untuk menghidupi kehidupanku sendiri. Mulai dari, bekerja di restoran sebagai pelayan, pengantar pesanan ayam, bahkan menjadi pengurus anak kecil. Ada pepatah yang mengatakan aku hidup untuk menghasilkan uang, atau aku menghasilkan uang untuk hidup. Aku tidak ingin selalu bergantung pada orang lain.
==========
Aku dan Soojung hampir tiba di halte bus, namun karena bus telah tiba lebih dulu mengharuskan kita berlarian untuk sampai disana sebab kita tidak ingin menunggu kedatangan bus selanjutnya. Itu melelahkan! Akhirnya, kita mampu menaiki bus dengan tawa canda. Sayangnya, kita berdua tidak kedapatan kursi di dalam bus, alhasil kita harus berdiri sampai pemberhentian selanjutnya. Berlarian mengejar bus sudah sering kita alami. Hal ini sangat menyenangkan dan membuat kita berdua semakin dekat. Aku menatap ke arah luar jendela. Tiba-tiba aku teringat oleh keluargaku yang sudah berada di langit. Aku menatap langit sambil berkata, “Eomma, Appa, kalian bahagia? Saat ini aku sedang bahagia.”
Namun, tiba-tiba aku merasakan pusing pada kepalaku. Aku berusaha menahannya dengan kedua tanganku dan mencoba menggoyang-goyangkan kepalaku untuk menghilangkan rasa sakit itu.
        “Eonnie, ada apa?” tanya Soojung “Apakah sakit kepalamu kambuh lagi?”
        (Aku mengabaikan pertanyaan Soojung).
Lalu, aku memencet tombol pemberhentian. Aku pun turun dan Soojung mengikutiku. Sepanjang jalan, Soojung hanya menanyakan hal yang sama.
            “Eonnie, gwaenchanha? Eonnie…”
Pertanyaan Soojung aku tidak jawab karena jika aku menjawab aku hanya menerima jawaban tidak mungkin, aneh atau bahkan gila. Selama ini, Soojung hanya mengetahui kalau aku memiliki penyakit Vertigo. Teralu sering aku merasakan keadaan dimana kepalaku terus berputar, aku mengatakan padanya bahwa aku mengalami penyakit sejenis vertigo. Sikapku yang tiba-tiba pergi membuat Soojung khawatir. Tak lama, aku tiba di persimpangan lampu merah. Aku melihat Kim Myungsoo sedang jalan menyebrang. Namun tiba-tiba ia berhenti di tengah jalan.
        “Apa yang sedang dia lakukan berhenti di tengah jalan?” gumamku.
        “Oh, Eonnie, lihatlah ada truk!” Soojung memberitahuku bahwa traffic light dari arah lain sudah hijau dan traffic light yang menunjukkan orang berjalan sudah merah dari arahku dan itu tandanya tepat Myungsoo sedang berdiri. Truk tersebut berulang kali membunyikan klakson untuk memberi tanda agar Myungsoo segera menjauh. Tapi dia tetap diam. Truk itu semakin dekat……………….
        “Eonnieeeee…..” teriak Soojung.
==========
Aku tergeletak lemas bersama Myungsoo. Untunglah dia selamat lagi setelah aku berlari menyelamatkannya.
        “Eonnie, gwaenchanh-ayo? Eonnie.” Soojung meneriakku tepat disampingku.
(Aku pun membuka mataku dan segera bangkit)
PLAAKK! (Aku menampar Myungsoo keras).
        “Hei, Kim Myungsoo kau mau mati?” teriakku. “Apakah kau tidak capek menyusahkan ku seperti ini?”
        “Apa? Yaa! seharusnya kau. Apakah kau tidak lelah menggangguku setiap kali bertemu? Aku selalu sial semenjak bertemu denganmu.” jawabnya.
        “Apa katamu? (aku tertawa kecil) Kim Myungsoo kau ini, bisa tidak berhenti melibatkanku dalam nasib burukmu. Hoh?” kataku dengan nada lemas.
        “Justru kau yang membuat nasib buruk itu.” jawab Myungsoo. Myungsoo memperlihatkan wajah khawatir, “Hei, ada apa? Kenapa wajahmu pucat begitu?” kata Myungsoo lagi melihat wajahku pucat.
        “Suzy eonnie, kamu baik-baik saja? Eonnie..” tambah Soojung.
***
Di rumah sakit, Soojung dan Myungsoo menunggu di luar ruangan unit gawat darurat. Tak lama kemudian, dokter yang menangani keluar dari ruangan. Segera Soojung menanyai keadaan Eonnie-nya itu.
        “Gwaenchana-assmida, dia akan segera sadar. Dia hanya syock.” jelas dokter.
(Soojung dan Myungsoo menghela napas)
        “Syukurlah eonnie.” kata Soojung. “Myungsoo oppa, aku akan mengurus administrasi dulu. Tolong jaga eonnie sebentar.”
Myungsoo masuk ke ruangan Suzy. Dia membuka pintunya perlahan. Ia berdiri disampingnya dan menatap wajahnya. Menatap ke seluruh tubuhnya dan matanya berhenti karena melihat luka di tangan Suzy. Kemudian dia teringat kejadian spanduk waktu itu.
“Wanita gila.” gumamnya.
Ia mencoba menyentuh bagian luka Suzy. Namun niat itu diurungkan setelah mendengar Suzy menginggau dengan menyebut “Eomma, Appa.”
        “Kau sudah sadar?” tanya Myungsoo lebih mendekatkan diri pada Suzy.
==========
Aku perlahan membuka mataku. Aku menyadari kehadiran Myungsoo disisiku.
        “Kau, bagaimana bisa….” kataku berbicara walaupun masih merasakan lemas ditubuhku.
        “Bodoh, bagaimana bisa kau melakukan tindakan bodoh seperti itu. Apakah kau yang ingin mati?” jawab Myungsoo.
        “Kenapa?”
        “Aku tidak ingin kau terluka lagi, Bae Suzy.” jawab Myungsoo yang membuat suasana itu menjadi canggung.
        (Aku menyeringai) “Yaa! Kenapa kau jadi seperti ini?” jawabku mencairkan suasana. Aku berusaha untuk bangun dari tempat tidur ini tapi malah membuatku tambah lebih sakit lagi.
        “Kau ini keras kepala sekali. Dokter bilang kau jangan banyak bergerak.” Myungsoo mengomel.
Aku yang melihat tingkah laku Myungsoo yang sangat memperdulikanku, tidak merasakan kesenangan sama sekali dalam diriku. Justru kebaikannya padaku membuatku risih dan memikirkan hal-hal negative tentang dirinya.
(Soojung masuk ke dalam kamar).
        “Eoonie, kamu baik-baik saja?” tanyanya cemas.
        “Oh. Tapi Soojung-ah, kenapa aku bisa disini?” tanyaku.
        “Ah, kamu pingsan setelah menyelamatkan Myungsoo oppa. Dia membawamu kemari setelah menghubungi para pengawalnya. Haha, wah daebak kalau aku mengingat-ingat itu lagi.” jawab Soojung agresif.
        “Hei. Hentikan!” kataku memotongnya.
       “Mian-e, eonnie.”
Tak sampai disitu, Myungsoo pun ikut berbicara. Dia mengatakan kalau aku juga menampar dirinya dan mengiler di pundaknya. Walaupun hanya bercandaan, perbincangan itu membuatku merasa nyaman dan lebih baik, karena pada akhirnya aku bisa tertawa lagi. Suasana kecemasan itu tergantikan oleh canda tawa di dalam ruangan. Dan yang terpenting akibat dari peristiwa ini aku menjadi dekat dengan Kim Myungsoo.
==========
Setelah tiga hari aku berada dirumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Kim Myungsoo dan Soojung menjemputku. Myungsoo membantuku berjalan dan Soojung membawakan tas ku. Ketika di lobbi rumah sakit, aku melihat beberapa orang berpakaian jas yang berbaris rapi seperti menunggu kedatangan seseorang.
      “Kim Myungsoo, apa mereka semua orangmu?” tanyaku.
      “Bukan.” jawabnya.
Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari lift. Terlihat seorang laki-laki duduk di kursi roda dan didampingi oleh sebagian para pria jas itu.
      “Jadi mereka itu menunggu mereka.” kata Soojung.
      “Oh, bukankah itu Ahn Jae Hyun?” kata Myungsoo menebak.
      “Kau mengenalnya?” tanyaku.
      “Hm, Ahn Jaehyun!” teriak Myungsoo. Ia segera mempercepat langkah kakinya yang sambil memegangiku untuk menghampiri laki-laki di kursi roda itu.
(Sesampai dihadapannya);
     “Ahn Jaehyun, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau..?” tanya Myungsoo khawatir.
     “Annyeong Kim Myungsoo, kau sudah kembali ke Korea? Bagaimana kabarmu? Ah, ini. Aku hanya mengalami kecelakaan kecil saja.” balas laki-laki itu.
Aku hanya bisa melihat percakapan mereka dan tak mengerti apapun tentang hubungan mereka berdua. Tapi semakin melihat Ahn Jae Hyun, seperti aku pernah mendengar suaranya. Tapi dimana? Pikirku. Lalu, Kim Myungsoo memperkenalkanku dan Soojung kepada kerabatnya itu.
     “Kita bertemu lagi.” kata Ahn Jaehyun mengarah padaku. Itu membuatku kaget dan membuat ku berpikir apakah kita pernah bertemu sebelumnya?
     “Kau mengenalnya?” tanya Myungsoo.
     “Entahlah. Aku mengenalnya atau tidak mengenalnya.” jawab Jaehyun yang membuat kita semua bingung dengan jawabannya.
     “Ngomong-ngomong, apakah kau mendengar kabar tentang Yeri? Kapan ia balik ke Korea?” tanya Myungsoo pada Jaehyun.
     “Tidak.” jawab Jaehyun singkat sembari pamit untuk segera pergi lebih dulu.
     “Hati-hati Ahn Jaehyun. Aku akan segera mengunjungimu.” teriak Myungsoo.

Lalu, Myungsoo mengajak kami untuk pergi juga, namun aku masih terfokus pada perkataan Jaehyun <kita bertemu lagi> Dia membuat ku penasaran siapa dia bisa mengenalku? Setelah Soojung memanggil namaku aku baru tersadar. Dan kita segera pergi.

====== Next To Book =======

MY FIRST BOOK 'DESTINY'

HAAAIIIIIII.....
Alhamdulillah, karya pertamaku berupa novel sudah keluar. Aku sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan naskah ini dengan usahaku. Aku telah mengerahkan segala imajinasiku untuk menuliskannya ke dalam sebuah cerita. Ternyata jadi penulis itu tidak mudah. Harus membutuhkan ketelitian serta kesabaran. Kesabaran mendapatkan mood yang sesuai untuk mulai menulis.
Dan kini buku pertamaku (FanFiction) sudah publish.

Judul Buku : Destiny: Take Me To Your Side
Penulis : Syifa Mauludina
Penerbit : Nulisbukudotcom

Sebelumnya, aku mengucapkan terima kasih pada Allah swt, yang sudah memberikanku kesempatan dan memberikan bakat ini untuk kusalurkan. Kemudian, kepada orang tuaku serta teman-temanku yang memberi support luar biasa untuk bisa menghasilkan naskah ini.


1. Bagaimana cara mendapatkannya?
Jawab: Kalian tinggal duduk manis dirumah. Karena buku ini bisa dipesan melalui online di website www.nulisbuku.com dan ikuti tata caranya. Untuk harga bisa cek di website yang sama dengan categories FacFiction. Atau kamu bisa juga langsung hub. contact di email: syifaryanto@yahoo.com

2. Kenapa nggak terbit di perusahaan mayor?
Jawab: Nah, ini yang menarik. Bisa dibilang saya ini pemula dan butuh banyak pembelajaran. Dalam menulis sebuah buku juga harus membutuhkan keberanian dan siap menghadapi resiko.Berpikir apakah cerita yang saya susun pas dihati pembaca atau tidak.Untuk buku pertama saya ini, saya bekerja sama dengan perusahaan nulisbukudotcom. Jadi hanya bisa dipesan melalui website di atas. Sampai saat ini, novel Destiny juga dalam proses penyeleksian oleh penerbit Grasindo dan dibutuhkan waktu sekitar empat sampai enam bulan untuk konfirmasi.

CATATAN:
- Sebelum anda berniat untuk membeli buku ini, silahkan anda membuka blog www.hellomango.blogspot.com untuk 'Read Sample'. Jika anda berkenan dan tertarik utk membaca kelanjutannya, anda dapat membacanya di buku tersebut dengan cara membeli.
- Tanpa bantuan editor, saya berusaha sekeras mungkin untuk menyusun naskah Destiny. Jadi mohon dimaklumi jika ada kesalahan tata bahasa ataupun penulisan dalam buku ini.DESTINY'

Friday, 18 September 2015

(CERBUNG) 31 DAYS 7 Xtion Part Four

*PART FOUR*
Frans tidak melihat siapapun. Hanya melihat ruangan kosong. Zidan yang mengikutinya dari belakang juga ikutan melongok. Melihat sekeliling, Frans menemui ujung sepatu yang mengumpat di balik tembok. Frans curiga dan mencoba untuk mendekat. Sekitar tiga kaki melangkah, ponsel Zidan berbunyi dan menghentikan langkah Frans untuk mendekatinya.
            “Halo.” jawab Zidan.
            “Iya. Saya mengerti.” Zidan menutup telp itu.
            “Saya harus pergi sekarang.” tambah Zidan.
            “Baik Pak. Saya akan mnegantar anda keluar. Silahkan!” jawab Frans.
Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan ruangan tersebut dan tidak mengetahui keberadaan Dina. Dina menghela napas karena berhasil sembunyi. Dirinya panik dan langsung keluar dari ruangan itu. Dina langsung pergi ketempat ia janjian dengan Gosa dan Rafi.
Gosa dan Rafi sudah memakan makanannya dengan lahap tanpa Dina.
            “Ah sedapnya…” kata Gosa.
            “Segerrr. Es ini rasanya aku benar-benar ingin memakannya sedikit-dikit agar tidak cepat habis.” sambung Rafi.
            “Habis, ya beli lagi. Kau punya banyak uang kan.” ejek Gosa.
            “Kanker Gos. Gajian belum turun.”
            “Kau pikir hujan, turun.” balas Gosa sambil memukul kepala Rafi dengan sumpit.
Tiba-tiba Dina datang. Dia berusaha biasa saja. Tidak memperlihatkan wajah takutnya. Namun karena napas berat Dina, akhirnya Gosa dan Rafi menanyakkan pertanyaan yang aneh-aneh.
            “Hei Din, kamu kenapa?”
            “Apa yang membuatmu sampai napasmu berat seperti itu?”
            “Kamu seperti melihat hantu? Ah kamu bermain kejar-kejaran dengan hantu lagi kan? Iya kan?” ejek Gosa.
            “Bukan… bukan begitu. (Dina duduk) gimana cara aku bilangnya ya?” jawab Dina.
            “Bilang apa?”
            “Aku tau siapa pembunuh berantai itu selama ini.” jawab Dina.
            “Siapa?”
            “Siapa itu?”
            “Ahhh aku tidak bisa bilang.” kata Dina sambil memperhatikan sekeliling takut ada spy.
            “Kamu lihat apa? Hoh?”
            “Kamu membuatku takut.” kata Gosa yang ikut melihat sekeliling.
Kemudian Dina mengambil ponselnya, menghubungi Dion.Namun tidak diangkat.
***
Di ruang kerja perusahaan Dion, ia terlihat kesal. Tidak terima dengan perlakuan kakaknya yang sengaja secara tidak langsung ingin menjatuhkan dirinya melalui kata-katanya pada saat rapat tadi. Dion pun sampai tidak sadar bahwa ponselnya berdering.
            “Tuan, apakah anda tidak mengangkat telponnya?” tanya Sekretaris Joe.
            “Tuan…. Tuan… (pelan) Tuan….(keras).” Sambung Sekretaris Joe lagi.
Teriakan Joe tidak hanya menganggetkan Dion tetapi seluruh orang yang sedang bekerja, yang jaraknya berada dekat dengan ruangan tersebut.
            “Kau menganggetkanku.” jawab Dion smabil menjawab telponnya.
            “Halo.”
            “Halo. Dion apakah kamu punya waktu? Ada hal yang ingin aku bicarakan?” kata Dina.
            “Hal apa?”
            “Kita bertemu saja.”
            “Lihatlah kelakuan junior satu ini, tidak menghargai seniornya yang sedang ngomong, dia malah ingin memberitahunya ke orang lain ketimbang kita.” gerutu Gosa.
            “Kirimkan pesan tempatnya.” jawab Dion menutup telponnya.
Dina segera pergi tanpa pamit kepada Rafi dan Gosa. Sesampainya di sebuah café tempat mereka janjian, Dina datang lebih dulu. Tak lama kemudian, Dion datang.
            “Duduk. Duduk.” kata Dina.
            “Ada apa? Penting banget kah?” jawab Dion.
            “Penting. Sangat penting. Hhmm.. Aku tidak tau harus mulai dari mana. Agar kamu tidak sakit hati.” sambung Dina.
            “Ada apa? Sampai aku akan merasakan itu?” jawab Dion.
            “Ini tentang… pembunuhan itu… pelakunya. Aku menemukannya.”
            “Kamu serius? Siapa? Cerita padaku!”
            (Dina memberikan hasil rekaman yang ada di ponselnya kepada Dion)
Disitu Dion mendengar semua percakapan abangnya kepada Frans. Rasa tidak percaya bahwa abangnya lah yang membunuh semua sanak keluarganya hanya untuk keserakahan memimpin perusahaan SIMA Group. Dan data anggaran yang hilang itu ternyata dicuri oleh abangnya sendiri agar Dion tidak bisa melanjutkan presentasinya di para pemegang saham justru malah akan diturunkan jabatannya. Dion pun mengepalkan genggamannya dengan wajah yang penuh emosi.
            “Dari mana kau dapat rekaman ini?”
            “Di kantor. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka di ruang ketua tim. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan seserius itu dan ternyata ini hasilnya.” jawab Dina.
            “Bajingan. Aku akan membunuhmu. Lihat saja nanti.” kata Dion yang masih mengepalkan tangannya.  Secara sadar, Dina memegang tangan Dion untuk menenangkannya. Hal itu membuat emosi Dion reda dan membalas sentuhan itu.
            “Tenang saja. Mereka tidak akan bisa membunuh kita berdua. Aku akan menjagamu. Aku janji,” kata Dion.
            “Hm… aku juga akan menjagamu.”
Kemudian Dion mengantarkan Dina pulang. Dina menyewa sebuah rumah berukuran kecil untuk di tempati. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Dina hidup seorang diri. Di daerah dia bekerja tidak ada keluarga satu pun.
            “Saudara ku tinggal di pulau sumatera. Karena jaraknya jauh mereka tidak pernah datang kesini.” jelas Dina kepada Dion yang menanyainya.
            “Oh seperti itu.”
            “Kenapa? Kamu merasa kasihan sama aku?” tanya Dina.
            “Tidak. Tidak. Apa yang aku perlu kasihani darimu.”
            “Kamu beruntung. Bisa menikmati semua kehidupanmu dengan uang yang kau punya. Hanya duduk manis kamu mendapatkan uang yang banyak. Sedangkan aku, aku harus berlarian, mengejar penjahat sana-sini, bahkan sampai melukai diriku sendiri, baru bisa mendapatakan uang. Hidup itu ternyata penuh dengan perjuangan. Dan anggap aja perjuangan itu sebagai pengalaman.” tambah Dina yang masih terpasang dengan safety belt nya sambil tertawa kecil.
            (Dion menatap tajam wajah Dina)
            “Kenapa kamu melihat aku seperti itu? Merasa tersentuh sehabis mendengar ceritaku? Sudahlah, tidak usah seperti itu. Tidak akan merubah kehidu… (Dina menolehkan wajahnya ke arah Dion, dan Dion langsung mencium bibir Dina dan membuat perkataannya terhenti serta kaget)
            “Apa yang kamu lakukan?” kata Dina berontak sambil melepaskan ciuman tersebut.
            “Apa yang telah kulakukan?!” tanya Dion salah tingkah.
Dina hanya memegangi bibir yang sehabis disentuh oleh Dion. Dia tak percaya Dion akan melakukan hal gila seperti tadi. Apa yang membuatnya melakukan itu? apa yang ada dipikiran dia? Pikirnya. Dina dan Dion saling merasa malu, terutama Dion akan perbuatannya. Dina buru-buru langsung keluar dari mobil dengan sikap yang salah tingkah juga. Kemudian, Dion mengejar Dina. Menarik tangannya untuk diajak berbicara. Namun Dina hanya tertunduk malu.
            “Angkat kepalamu!” kata Dion.
            “Aku malu.” jawabnya.
            “Kenapa harus malu? Memang kita melakukan hal yang salah?” tanya Dion.
            “Iya!” jawab Dina keras mengangkat kepalanya dekat tepat dengan wajah Dion.
            “Lagi, kenapa kamu bisa sampai ngelakuin hal ini? Ah ini buat aku gila.” tambah Dina.
            “Kenapa? Atau jangan-jangan ini pertama kali kamu ngelakuin ini? Iya?” ejek Dion.
            “Hah?”
            “Benar. Diliat dari ekspresi kamu pasti ini pertama kali kamu melakukan ciuman. Jika memang pertama kali, berarti aku cowok pertama yang cium kamu? Wah.. amazing….” ejek Dion lagi membuat Dina semakin ingin menyembunyikan wajahmu.
            “Kamu ngejar aku sampai sini Cuma untuk meledekku seperti ini?” tanya Dina.
            “Aku tidak meledek, aku hanya bertanya. Kenapa kamu jadi marah? Tapi bener kan?”
            “Diam!” jawab Dina.
            “Kalau kamu belum pernah berciuman berarti itu tandanya.. kamu… belum pernah pacaran.” sambung Dion lagi.
            “Heiii. Harus aku jahit mulutmu agar tidak banyak bicara.” Sahut Dina sambil memukul pundak Dion kesal.
            “Bukannya aku tidak ingin pacaran, sebenarnya banyak laki-laki yang mengejarku. Karena ku tipe orang pemilih jadi aku tolak semua.” tutur Dina lagi.
            “Ohya, tampang mu tidak terlihat seperti itu. Kamu memiliki wajah yang polos. Tidak mungkin ada orang yang tertarik pada wajah seorang gadis yang polos.” Ledek Dion lagi.
            “Dionnn. Sekali lagi kamu ngomong benar-benar aku jahit mulutmu ya.” Jawab Dina kesal.
            “Oke. Aku tidak akan bicara lagi. Kalau begitu sekarang kamu masuk ke dalam. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku.” Sambung Dion.
            “Oke.”
Dina masuk ke dalam rumah kecilnya dan meninggalkan Dion yang masih menunggu dirinya untuk masuk ke dalam rumahnya.
            “Selamat malam.” Teriak Dion.
Dina menoleh dan hanya tersenyum. Dina pun membuka pintu nya dan masuk, segera untuk menyalakan lampu untuk menerangi ruangannya. Dina memasuki kamar mandi. Berniat untuk membilaskan badannya, Dina melihat tulisan huruf X berlumuran darah di kaca yang besar. Dan sesosok pria misterius dengan jubah hitam menutupi kepalanya muncul, mendekati Dina sambil memegang sebuah pisau di tangannya. Dina pun berteriak dan dirinya terjatuh ke lantai ketakutan dengan badan yang gemetar. Sontak teriakan Dina itu terdengar oleh Dion yang masih berada di luar yang hendak masuk ke dalam mobil. Dion pun berlari ke dalam rumah Dina, mencoba membuka pintu namun pintu rumah dalam keadaan terkunci yang menyulitkan Dion untuk masuk ke dalam rumahnya.
            “Dina, kamu gapapa? Dina buka pintunya.” teriak Dion yang juga berusaha mendobrak pintu namun tak berhasil.
Sementara Dina masih berteriak ketakutan karena pria misterius itu semakin mendekati dirinya. Teriakan Dina itu justru membuat Dion semakin panik dan berusaha keras untuk mendobrak pintunya.

~To Be Continued~

Wednesday, 2 September 2015

PUISI: Cahaya Bulan

Ku berdiri
Memandang langit malam
Ku melihat sebuah bulan memandang ke arahku
Oh.. Betapa indahnya
            Di temani bintang-bintang         
Ingin ku menggapai satu di antaramu
            Mimpiku adalah impianku
            Semangat ku untuk mewujudkan harapanku
Cahaya bulan yang menerangi dunia
Di kelap malam
Hanya kau yang mampu bertahan dinginnya malam
Ku harap kau baik-baik saja
            Cahaya bulan dengarkan permintaanku
            Ku ingin kirimkan seseorang untukku
            Seseorang yang ada di dalam hatiku
            Sampaikan pesanku untuknya

            Bahwa ku merindukannya

Monday, 31 August 2015

(CERBUNG) 31 DAYS 7 Xtion Part Three

*PART THREE*
Masih memegang erat pundak Dina. Dina merasa sangat ketakutan jika hal mengerikan akan terjadi pada dirinya. Sekilas ia mengingat perkataan nenek tua tadi pagi bahwa dia akan mengalami masa-masa buruk. Apalagi ini salah satunya? Dina segera mengambil ponsel nya untuk menghubungi rekan kerjanya, namun tidak ada. Ia baru sadar bahwa ponselnya hilang.
            “Kenapa kamu tidak jawab?” kata Dion.
            “Jawab apa?” jawab Dina terbata-bata.
            “Kenapa kau bisa memiliki gelang ini (sambil menunjukkan gelangnya).”
            “Hah? Itu… itu….”
            “Itu apa?”
            (Wajah Dina tegang) “Aku menemukan gelang itu… saat…. pada korban. Ah bukan bukan, gelang itu aku temukan di samping tubuh korban yang meninggal pada 12 april lalu. Puas?” jawaban Dina melepaskan tangan Dion dari pundaknya dan Dina merasa kesakitan.
            (Dion terdiam sejenak)
            “Ada apa? Hoh? Ada yang salah? Kenapa wajahmu seperti itu? Setidaknya ngomong sesuatu kek.” kata Dina.
Kemudian Dion mengajak Dina untuk duduk di kursi tamu. Mereka berdua memulai pembicaraan serius.
            “Apa yang kamu pikirkan tentang gelang itu?” tanya Dion.
            “Pembunuh.”
            “Kamu yakin itu miliknya?”
            (Dina mengangguk)
            “Kamu pikir itu milikku? Dan aku pembunuhnya?” tanya Dion lagi.
            “I—ya.” jawab Dina sambil menggeser menjauh dari Dion.
            (Dion tertawa kecil) “Gila.”

Kemudian Dion bangkit dari duduknya dan mengambil buku X dari laci mejanya. Dion pun membuka buku tersebut dan terdapat kalung X di dalamnya. Itu membuat Dina kaget. Dion membuka lembar demi lembar buku tersebut sambil memperlihatkannya ke Dina. Betapa terkejutnya bahwa buku tersebut berisikan data korban yang dibunuh sama dengan data pembunuhan yang dimiliki oleh pihak kepolisian.
            “Astaga. Ini semua…. Waw…” kata Dina sambil menatap Dion.
            “Aku memiliki ini sejak sebulan yang lalu. Awalnya aku kira ini hanya sebuah catatan kosong. Tapi ternyata di dalamnya berisikan nama-nama orang dari keluargaku. Dan nama-nama tersebut telah meninggal dunia. Salah satunya ayahku.” Dion menjelaskan.
Dina yang mendengar hal itu sedikit tersentuh, bahwa ayahnya menjadi salah satu korban pembunuhan berantai. Itu tandanya bukan Dion lah pelakunya. Tidak mungkin anak membunuh ayah kandungnya sendiri. Pikir Dina.
            “Ayah mu?”
            “Ya. Ayahku meninggal pada 12 April 2015. Dan kematiannya sangatlah tidak masuk akal. Awalnya kesehatan ayahku baik-baik saja. Dia rajin berolahraga bahkan memakan makanan yang sehat. Tetapi tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa ayahku sudah berada di ruang UGD dan meninggal di lokasi kejadian. Aku juga tidak mengerti lokasi kejadian itu dimana. Kamu, kamu bilang nemuin gelang itu pada korban 12 april? Itu ayahku. Dimana tempat itu?” tanya Dion.
            “Korban itu ayah kamu? Kejadian itu juga masih dalam penyelidikan sebenarnya. Tapi sudah ditutup tanpa alasan yang jelas. Ketua tim bilang keluarga korban sudah menutup kasus itu, dan aku juga baru tahu kalau kamu salah satu keluarganya.” jelas Dina.
            “Keluarganya yang meminta? Hanya ada aku dan abangku? Mungkinkah abangku yang meminta menutupnya?” tanya Dion sambil berpikir.
            “Aku juga tidak tahu. Tapi saat aku menemukan mayat korban, tempatnya itu di pinggir sungai. Untuk memprediksi adanya kecelakaan tetapi tidak ada tanda-tanda pecahan kaca mobil atau sebagainya. Menurut perkiraanku, ayahmu di bunuh dan di buang ke tempat itu. Ada kemungkinan.” jelas Dina.
            “Dibunuh? Sama siapa?” kemudian Dion mengingat-ngingat kejadian dirumah sakit.

#Flashback
Suara denyut jantung seseorang yang sedang terbaring di ruang UGD telah berhenti. Dion pun menangisi kepergian sang ayah yang begitu cepat. Didampingi oleh sekretaris Joe dan beberapa orang dari pihak kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Tak lama kemudian, Zidan datang berlarian. Zidan pun ikut hanyut dalam keharuan Dion.
            “Kenapa ayah saya bisa seperti ini?” tanya Zidan kepada polisi.
            “Kami juga sedang menyelidiki. Namun ada kemungkinan kasus ini adalah pembunuhan yang di sengaja Tuan.”
            “Pembunuhan sengaja? Siapa yang tega melakukan itu?” tanya Dion.
            “Bang, apakah ayah punya musuh? Setau ku tidak.” sambung Dion lagi.
Zidan pun memeluk Dion yang masih dalam tangis histerisnya. Namun ketika pelukan itu berlangsung, Dion berhenti menangis, melihat telapak tangannya berlumuran darah yang berasal dari jas milik Zidan.
            “Ini apa bang?” tanya Zidan melepaskan pelukannya.
            (Zidan terkejut) “Oh ini… tadi pas abang sedang menuju kesini ada kecelakaan mobil, jelas abang bantu mereka dan salah satu dari mereka ada anak kecil yang berlumuran darah jadi mungkin ini kena darah anak itu.” jelas Zidan.
            “Oh seperti itu.”
            “Yasudah abang ke kamar mandi dulu bersihin darah ini.”

Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan dan menyatakan bahwa ayahnda telah meninggal dunia. Dion pun masuk ke ruangan tersebut melihat sang ayah untuk yang terakhir kalinya. Zidan pun muncul di ruangan itu. Berdiri tepat di samping Dion. Akhirnya mereka semua pun pergi untuk mengurusi pemakaman ayahnda. Namun sebuah kalung jatuh dari saku jas Zidan. Kalung tersebut dipungut oleh Dion dan dikantongi. Sesampainya dirumah, mereka berdua pergi ke kamarnya masing-masing. Namun Dion hendak masuk ke kamarnya, ia malah pergi ke kamar abangnya berniat untuk mengembalikkan kalung itu. Ketika masuk ke kamar Zidan, ternyata Zidan sedang mandi. Ia meletakkan kalung tersebut di atas meja kerjanya. Tapi ketika Dion hendak pergi, mata dia tertuju pada sebuah buku yang menarik perhatiannya. Buku tersebut terletak di bawah tempat tidur. Dion heran mengapa buku sebagus ini bisa ada dibawah tempat tidur? Apakah mungkin abang lupa menaruhnya? Pikirnya.

Ketika Dion berniat untuk mengambil dan mengembalikkan buku tersebut ke dalam rak buku, ia membuka sedikit halamannya. Dan hal itu membuat dirinya kaget karena melihat adanya data diri ayahnya meninggal. Tak hanya itu, ada beberapa juga nama orang yang telah meninggal. Dan nama tersebut adalah orang-orang dari keluarganya sendiri. Dion bertanya-tanya apa maksud dari buku ini? Ketika sedang fokus mengamati daftar tersebut, bunyi suara air shower berhenti. Zidan sedang mengeringkan tubuhnya. Dion panik. Kemudian ketika lembar berikutnya dia buka, ada sebuah gambar kalung dan gelang berlambangkan huruf X dan huruf X tersebut seperti sebuah pedang. Dion pun mengambil kembali kalung yang telah dikembalikannya itu. Tiba-tiba Zidan keluar dari bathroom sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ketika keluar, Zidan melotot melihat suasana kamarnya tidak seperti biasanya. Ia melihat sekeliling namun tidak ada orang. Ia mengambil pakaian di lemarinya. Berpakaian rapi mengenakan setelan jas berwarna coklat muda. Ketika sibuk berdandan, ponsel miliknya bordering.
            “Hallo.” jawab Zidan.
            “Tuan, semua sudah beres. Kasus ini telah ditutup.”
            “Baiklah. Terima kasih atas kerja kerasmu, Frans. Pastikan kasus kematian ayahku tidak diungkit lagi.” jawab Zidan.
Mendengar hal itu, Dion yang mengumpat di bawah kolong meja kerja Zidan terkejut. Mengapa kasus kematian ayahnya ditutup tanpa izin dirinya. Hal ini juga berlaku pada kematian om nya dulu. Bahkan sejak ibu nya meninggal dunia karena sakit, Zidan tidak menuntut pihak rumah sakit karena kesalahan prosedur obat yang diberikan kepada ibunya dan menyebabkan ibunya meninggal.
#FlashbackEnd
            “Apa yang kamu pikirkan tentang ceritaku?” tanya Dion kepada Dina.
            (Dina menarik napas) “Entahlah. Aku pikir kita mempunyai pikiran yang sama. Tapi aku tidak terlalu yakin karena belum ada bukti.”
            “Jika memang benar abangku. Aku merasa menyesal. Apa yang membuat pikirannya sekeji itu untuk melakukannya.”
            “Apakah abangmu tidak mencari-cari buku dan kalung ini?”
            “Tidak. Dia tidak sadar jika ini semua ada di tanganku. Detektif Dina, mau kah kau menolongku? Mencari tahu tentang abangku?”
            (Dina kaget) “Kamu serius ingin menyelidiki abang mu sendiri? Jika ini terus berlanjut akan terjadi perperangan antara kamu dengan kakakmu.”
            “Keputusan yang ku ambil ini sangat tepat. Aku rasa dia tidak bekerja sendiri melainkan bersama orang lain. Fra… Frins.. augh aku lupa siapa namanya. F.. Frans.. iya Frans. Kalau tidak salah abangku menyebut nama itu ketika di telfon.”
            “Frans? Frans? Mirip dengan nama ketua tim di tempat kerjaku. Tapi tidak mungkin dia? Seorang ketua tim detektif membantu seseorang untuk melakukan pembunuhan itu? Tapi Zidan, jika memang benar abang mu yang melakukan semua pembunuhan sayatan itu, buat apa abangmu membunuh sanak keluargamu seperti itu?” tanya Dina.
            “Aku juga tidak tahu. Tapi pasti ada sesuatu.”
***
Diruang kerja Zidan, dia sedang duduk berpikir sambil menggoyangkan jemari tangannya secara bergantian sehingga menghasilkan sebuah nada. Kemudian ia berkata, “Aku hanya membuatmu tidur supaya tidak berisik!”
#Flashback
Ketika karyawan yang mengundurkan diri keluar dari ruangan Dion, ia berjalan hendak meninggalkan perusahaan. Tanpa sadar ternyata ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Lama kelamaan, karyawan itu pun sadar. Dengan mengambil langkah cepat dan menaiki sebuah tangga tanpa ada seorang pun yang melintas. Pria bertopeng itu pun langsung mendekap karyawan wanita itu dengan sapu tangan dan menyeretnya ke sebuah gudang.
            “Kau sudah bekerja keras sayang.” kata pria misterius itu.
            (Wanita itu ketakutan)
            “Aku sudah melakukan semua yang pak Zidan suruh, anda mau apalagi?”
            “Saya? Hhmm? Apa ya? Saya hanya minta kamu menutup mulut, tetapi kamu malah bilang bahwa harus berhati-hati dengan direktur? Itu saya? Saya sakit hati. Kamu tidak menepati janji kamu, itu tandanya saya harus mengingkari janji saya untuk menyelamatkan kamu.”
            “Maksud Tuan apa?”
            “Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan membuatmu tidur tenang selama-lamanya agar kamu tidak merasa takut. Tidak sakit kok.”
(Kemudian Zidan langsung menyuntikkan suntikan yang berisi cairan mematikan ke leher korban dan menaruh botol minuman di samping wanita itu, yang seolah-olah dia mati karena keracunan)
#FlashbackEnd
Kemudian seorang karyawan masuk memberitahu bahwa rapat dengan para pemegang saham akan segera dilaksanakan. Zidan bergegas kesana. Sesampainya disana, CEO Dion telah menduduki kursinya beserta dengan para pemegang saham yang sudah menunggu Zidan sedari tadi.
            “Maafkan saya karena terlambat.” kata Zidan.
            “Baiklah saya akan memulainya. Selamat siang. Terima kasih telah meluangkan waktu anda untuk hadir dalam rapat ini yang akan membicarakan data anggaran dan penjualan tahun ini. Sebelumnya… saya ingin meminta maaf, bahwa data tersebut telah hilang.” jelas Dion.
            “Apa?”
            “Apa maksudmu?”
            “Itu sangat penting untuk kami mengetahui keuntungan yang kami dapat.”
“Bagaimana bisa?” para pemegang saham berkomentar.
“Saya meminta maaf mewakili karyawan saya yang telah lalai mengurus hal itu.” kata Dion sambil membungkukan badannya.
(Zidan tersenyum)
“Bagaimana bisa kamu mengucapkan maaf seperti itu, jelas ini salahmu bukan karyawanmu. Jika saja kamu memperhatikannya lebih baik tidak akan terjadi seperti itu.”
“Semenjak perusahaan ini dibawah naunganmu tidak ada yang beres. Hal tak terduga terus saja terjadi. Ketika ayahmu memberikan semua sahamnya kepadamu, kamu tidak bisa menjaganya justru malah mengacaukannya. Bagaimana nasib perusahaan ini? Berita kematian salah satu karyawan pun sudah terekspos. Membuat investor jadi enggan menaruh sahamnya kepada kita.”
“Cukup Pak. Berikan adik saya waktu untuk menjelaskannya. Ini sepenuhnya bukan salah dia. Tapi ini salah kita semua, kenapa kita hanya harus mengandalkan satu orang jika orang lain juga bisa kita andalkan.” sahut Zidan dengan senyuman sambil melirik Dion.
(Dion hanya menatapi abang nya itu)
“Maksud pak Zidan kita harus memilih CEO yang baru?” kata seorang pemegang saham.
“Saya tahu anda paham.” jawab Zidan.
“Tidak bisa begitu pak. Saya baru beberapa hari duduk di kursi ini dan belum waktunya saya berdiri dari kursi ini. Harus sesuai dengan perjanjian kontrak.” sambung Dion.
“Perjanjian itu bisa berakhir ketika orang yang menandatangani perjanjian itu tidak memenuhi isi perjanjian itu. Dan anda tidak bisa memenuhinya.”
(Dion menghelas napas)
(Zidan hanya menonton perdebatan itu dengan senyum)
Rapat pun selesai.
***
Di kantor kepolisian, Dina terlihat diam memikirkan sesuatu. Ya! Dia memikirkan tawaran yang ditawarkan oleh Dion untuk bekerja sama menuntaskan kasus pembunuhan yang terjadi olehnya. Sesekali, Ia sempat kepikiran Ketua Tim. Apakah yang dimaksud dengan Dion itu benar Frans Ketua Tim? Kemudian dia juga mengingat-ngingat ekspresi Frans ketika Dina sedang mengajaknya berbicara dengan rekan yang lain mengenai gelang X yang diduga milik pelaku. Ketua Tim memilih pergi dari ruangan itu. Tiba-tiba Gosa dan Rafi menepuk pundak Dina, membuat dirinya terbangun dari lamunannya.
            “Lagi mikirin apa sih?” kata Rafi.
            “Oh. Gak. Gak lagi mikirin apa-apa.”
            “Ohiya, ada berita terbaru dari tim forensic. Kematian wanita dari perusahaan SIMA itu benar-benar keracunan. Di dalam minuman itu ada soda-soda yang membuatnya tidur dan melumpuhkan semua organ tubuhnya. Sebenarnya wanita itu bisa diselamatkan jika ditemukan satu jam setelah dia meminum dan dibawa kerumah sakit. Tetapi wanita itu justru ditemukan tiga jam kemudian.” jelas Rafi.
            “Tidak beruntung bagi dirinya.” sambung Gosa.
            “Tunggu.. jika memang benar dia keracunan akibat minuman itu, kita bisa mendatangi pabrik minuman itu untuk dimintai keterangan.”
            “Percuma. Minuman itu tidak terdaftar dalam produk apapun di Indonesia.” sahut Rafi.
            “Hanya ada satu di dunia.” sambung Gosa.
            “Ini aneh. Jika memang hanya satu di dunia, dari mana dia mendapatkan minuman itu?” tanya Dina.
            “Augh aku lapar. Kita makan yuk. Hhmm.. mie ayam gimana? Sepertinya enak.” ajak Gosa.
            “Setuju. Wah aku ingin yang pedes-pedes.” sambung Rafi.
            “Setuju. Aku ingin es campur, untuk mendinginkan pikiranku.” kata Dina.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan kantor untuk makan. Ketika sudah berjalan sampai lobbi, mereka bertemu dengan Zidan.
            “Selamat siang pak. Wah ada keperluan apa anda datang kemari?” tanya Gosa.
            “Saya ingin menemui Ketua Tim. Apakah dia ada di ruangannya?” jawab Zidan.
            “Dia ada diruangannya pak.” jawab Rafi.
Zidan pun pamit pergi menuju ruangan Frans. Disaat seperti itu, Dina meraba-raba kantongnya ternyata ponselnya tidak ada.
            “Ada apa junior?” kata Gosa.
            “Ponsel ku tidak ada. Coba aku lihat ke meja ku dulu. Augh, aku tidak ingin kehilangan ponsel ku untuk yang kedua kalinya. Kalian duluan saja, nanti aku nyusul.” kata Dina.
            “Okay.”
Dina pun kembali ke mejanya dan melihat suasana kantor tidak ada orang satu pun;
            “Ketemu! Syukurlah.”

Ketika Dina hendak pergi meninggalkan ruang kerjanya, Dina mendengar suara percakapan serius yang berasal dari ruangan ketua tim. Ternyata disana ada Zidan dan Frans. Dina pun mengambil kesempatan ini untuk menguping, apakah benar mereka berdua saling berhubungan.

            “Aku sangat senang sekali. Akhirnya aku bisa membuat adikku berlutut. Aku sudah muak dengan gaya dia yang sombong, sok memimpin perusahaan. Akhirnya, sebentar lagi perusahaan itu akan jatuh ketanganku. Haha.” kata Zidan.
            “Kerja bagus Tuan. Saya sangat beruntung bertemu dengan orang sebaik anda. Jika saja anda tidak muncul waktu itu, ketika ibu saya sedang dalam keadaan sekarat dan memberikan sejumlah uang untuk operasi, ibu saya tidak akan hidup sampai sekarang. Terima kasih.”
            “Tidak perlu mengucapkan terima kasih sekarang. Saya hanya butuh orang yang bisa berada disamping saya tanpa pengkhianatan. Saya benci pengkhianatan. Itu sebabnya karyawan wanita di perusahaan saya mati.”
            “Jadi, anda yang membunuhnya?”
            “Tidak. Saya tidak membunuhnya. Saya hanya membuatnya tidur, karena dia sangat berisik. Saya tidak suka itu.”
Dina yang menguping dari balik pintu sangat terkejut. Dengan mulut yang ditutup dengan kedua tangannya sambil bergemetar, tidak menyangka bahwa ia mendengar pernyataan itu langsung dari pembunuhnya. Kemudian buru-buru Dina mengambil handphone untuk merekan semua percakapan mereka.
            “Lantas, atas tujuan apa anda kemari Tuan?” tanya Frans.
            “Hm. Saat ini aku sedang tidak nyaman dengan adikku. Dia membuatku gerah. Apakah kamu tau kalung milikku ada dengan siapa? Dengan adikku. Dia mengambil kalung dan buku X dari kamarku.”
#Flashback
Ketika Zidan keluar dari kamar mandi, ternyata ia melihat dari kaca yang berada didepannya bahwa adiknya sedang mengumpat di bawah kolong meja sambil memeluk sebuah buku dan kalung miliknya.
#FlashbackEnd
            “Anda ingin melakukan apa?” tanya Frans.
            “Karena dia sudah membuka pedangnya, aku harus menggunakannya. Tapi bukan aku yang melakukannya, tapi kau.” kata Zidan. “Jangan sampai dia mati, hanya perlu menggoresnya sedikit untuk tidak ikut campur dengan kasus seperti ini. Jika dia membantah, terpaksa aku harus membunuhnya.”
            “Apakah anda yakin?”
            “Ya. Uhm dan satu lagi, kamu bilang gelang milikmu ada pada wanita detektif itu? Saya yakin dia juga diam-diam mencari tahu tentang X. Aku pikir, kita juga perlu sedikit menggores anak itu juga.”
Mendengar hal itu, Dina semakin gemetaran. Tangan sampai kaki pun tidak bisa bergerak. Dina mulai khawatir bahwa ia benar-benar akan dibunuh. Hingga pada akhirnya, ponsel yang sedang merekam itu pun jatuh dari genggaman Dina. Dina panik, berusaha untuk mengambil kembali ponselnya. Ia memilih untuk pergi namun dirinya menabrak tong sampah yang mengakibatkan Frans dan Zidan berhenti dari percakapannya akibat suara yang kencang dan membangunkan dirinya dari kursinya bergegas keluar dari ruangan. Ketika Frans membuka pintu………… jreng…….!!!

~To Be Continued Part Four~
Apa yang akan dilakukan oleh Zidan dan Frans terhadap Dina?