Monday, 17 August 2015

(CERBUNG) 31 DAYS 7 Xtion Part One


Di Sebuah ruangan berisolasi, dilengkapi dengan alat-alat teknologi canggih, mengharuskan seorang pria duduk di kursi yang sudah tersambung dengan alat-alat hipnoterapi di kepalanya serta tangannya. Seorang professor yang menangani dirinya mengatakan;
            “Apa yang terlihat di masa lalu mu?”
       “Aku melihat seorang… gadis cantik… berambut panjang… mempunyai body yang lengkung.. wah cantik sekali.” jawab laki-laki itu sambil tersenyum.
            (Professor keheranan) “Apa?”
        “Aku masuk bersama dia kesebuah hotel dan membelai rambutnya kemudian….” Laki-laki itu menambahkan namun perkataannya di potong oleh professor.
            “Dion… Hei hei bangun kau.. Aahh percuma saja ku membuat alat secanggih ini untuk membantu mu membuka masa lalu.” Jelas professor.
            (Dion membuka mata dan tertawa kecil) “Prof, sudah ku bilang cara seperti ini tidak akan berhasil. Lagi pula masa lalu ku tidak bagus-bagus amat. Buat apa di ingat kembali.” Dion menjawab.
Dion pun melepaskan alat-alat yang tertempel pada tubuhnya. Bangun dari kursi nya dan segera pergi meninggalkan professor. Dion mengemudi mobilnya dengan laju kecepatan sangat tinggi. Hingga pada akhirnya ia menabrak seseorang yang melintas tepat di depannya. Membuatnya terhenti dan keluar dari dalam mobilnya.
            “Apa kau tidak melihat mobilku sedang melaju kencang?” Dion emosi.
            “Hei, kau lihat tidak (menunjuk traffic light) lampu merah.. lampu merah.. Anda yang salah.” kata sang gadis yang masih terduduk di aspal.
            “Aahh…” Dion kesal dan menendang ban mobil.
            (Tiba-tiba lampu berubah menjadi hijau)
        “Hijau.. minggir minggir. Kau menghalangi jalanku.” Dion memasuki mobil dan membunyikan klakson karena sang gadis masih menghalangi jalannya.
            “Minggir.. ah gadis gila.”
            “Tidak mau.” kata sang gadis.
Akhirnya Dion pun mengambil tindakan yang cukup ekstrim dengan menginjak gas dengan kecepatan tinggi dan membuat sang gadis mundur dengan sendirinya karena takut tertabrak lagi dengan luka yang lebih parah.
            “Laki-laki sedeng.” kata Dina kesal sambil melemparkan tinju tangannya.
***
Di sebuah kantor kepolisian bagian detektif, terlihat orang-orang bekerja sangat sibuk mengurusi kasus-kasus yang sedang mereka tangani. Ternyata mereka baru mendapatkan informasi bahwa ada kejahatan pembunuhan di Sungai Barnei yang menewaskan satu orang pria separuh baya. Ketika mereka sedang berdiskusi tindakan apa yang akan mereka rencanakan, tiba-tiba Dina datang dengan napas terengas-engas akibat berlarian.
            “Hei kau, beraninya kau datang terlambat dengan situasi yang sedang genting seperti ini.” omel Frans sebagai ketua tim.
            “Maafkan saya. Saya minta maaf. Tadi saya….” Dina enggan melanjutkan pembicaraannya.
            “Tadi apa?” kata Frans.
            (Rafi melihat luka yang ada di lengan Dina) “Din, lenganmu kenapa?” tanyanya.
            “Hah? Oh tidak apa-apa. Hanya luka biasa.” jawab Dina.
            “Sudah.. sudah.. sekarang kita fokus dengan rencana yang sudah kita tetapkan untuk menangkap pelakunya.” Ketua Tim menjelaskan.
            “Ini foto korban.” Ketua Tim menambahkan.
Mereka pun melihatnya. Ketika mereka sedang melihat foto korban, tiba-tiba Dina melihat sebuah tanda/sayatan yang berada di lehernya. Sebuah symbol berbentuk huruf X. Setelah melihat symbol tersebut, Dina segera pergi menuju lokasi korban ditemukan. Rekan kerja nya pun kaget dan segera mengejar Dina yang pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
            “Benar-benar sudah tidak waras gadis ini.” kata Ketua Tim.
Dina mengendarai mobilnya dan diikuti oleh rekan kerjanya di belakangnya sambil meneriaki Dina untuk berhenti. Namun Dina mengabaikan perkataan seniornya tersebut. Terjadilah aksi kejar-kejaran di antara mereka. Sesampainya di lokasi kejadian, Dina langsung mendekati korban dan melihat lehernya untuk memastikan apakah benar ada symbol yang ia lihat di foto sebelumnya. Ternyata benar memang ada nyatanya. Dina pun kaget setelah melihat symbol tersebut, dan seniornya yang sudah berada di belakangnya bertanya-tanya ada apa dengannya?
Dina teringat masa lalu, bahwa ia pernah menyimpan sebuah gelang bertali dengan huruf X.  Benda itu ia temukan tergeletak tepat di samping korban saat menangani kasus yang sama dan terdapat symbol di lehernya. Di lokasi kejadian, Dina pun melihat-lihat di sekitarnya dengan perasaan takut.
            “Ada apa?” kata Rafi.
            “Tidak. Tidak apa-apa.” jawabnya dan segera menyuruh tim forensic membawa korban ke pusat penelitian untuk di otopsi.
***
Di ruang kantor Direktur, terlihat seorang pemuda laki-laki sedang menandatangani berkas-berkas miliknya. Tak lain ia adalah Dion. Selesai menandatangani berkas-berkas, sektretaris pun masuk ke dalam ruangan.
            “Hari ini anda memiliki jadwal untuk hipnote….” belom selesai berbicara Dion memotongnya.
            “Stop! (menghela napas) tidak ada yang lain?” tanyanya.
            “Tidak ada Pak.”
            “Oke. Kau boleh pergi.” Dion menyuruh.
            “Baik pak (merunduk).”
Dion membuka laci mejanya untuk menaruh sebuah kunci. Ketika laci itu terbuka, di dalam laci tersebut terdapat sebuah buku berwarna coklat dengan huruf X. Lekas Dion menutupnya kembali dan segera berjalan keluar dari ruang kantornya.
***
Di ruang otopsi, Dina diam berdiri melihat proses pengotopsian dari luar yang dibatasi dengan tembok kaca yang besar. Disitu Dina berpikir ada apa dengan huruf X? Apakah mungkin sayatan X itu sengaja ditinggalkan oleh pelaku agar pihak kepolisian mencarinya lebih mudah? Tapi buat apa dia membunuh orang dengan meninggalkan jejak seperti itu? Ini seperti sedang mempermainkan kita! Siapa Mr. X itu?
Ketika sedang berpikir, seniornya pun datang.
            “Bagaimana? Apakah sudah ada hasil?” kata Ketua Tim.
            “Belum.” jawabnya.
            “Hei, tadi kau ini kenapa? Apa yang salah denganmu? Kejar-kejaran di jalan raya, kita sudah seperti berada di balapan sirquit. Hahaha.” kata Gosa sambil tertawa dengan gaya koyolnya. Dan langsung terdiam ketika Ketua Tim menatapinya.
            “Maaf.” kata Gosa.
            “Hm Ketua Tim, apakah kau punya catatan tentang korban pembunuhan?” tanya Dina.
            “Ada. Kenapa?” tanyanya.
            “Bisakah ku melihatnya?”
            “Untuk apa?”
            “Untuk.. hm.. Hanya ku ingin melihat saja. Untuk mempelajari kasus ini pasti memiliki kemiripan hampir sama dengan kasus yang lalu.” jelasnya.
Ketua Tim pun mengeluarkan sebuah buku besar yang berisikan data-data korban pembunuhan. Dina, Gosa, Rafi serta Frans melihat data-data tersebut secara rinci. Satu persatu lembar data di buka. Ketika lembar ke 21, Dina memberhentikannya.
            “Kenapa kau memberhentikannya?” kata Gosa yang berusaha untuk melanjutkannya tapi ditahan oleh Dina.
Ternyata Dina melihat foto korban yang memiliki tanda X di lehernya dan melihat data tersebut korban telah meninggal pada 31 Maret 2015.
            “31 Maret 2015?” kata Dina bersuara kecil.
Kemudian Dina melanjutkan membuka lembar data selanjutnya. Ketika itu ia berhenti lagi dan melihat korban dengan sayatan yang sama. Meninggal pada 04 April 2015. Kemudian melanjutkannya lagi dengan meletakkan buku tersebut berada di hadapannya, tidak memperdulikan seniornya yang sedang melihatnya bersama-sama. Dina pun melihat tanda yang sama pada korban yang berbeda, meninggal pada 08 April 2015. Kemudian tanggal 12 April 2015. Selanjutnya pada tanggal 16 April 2015, dimana tanggal tersebut adalah tanggal korban yang sedang berada di ruang otopsi saat ini.
            “Tidak mungkin.” kata Dina sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
            “Ada apa? Hoh?” tanya Ketua Tim panik.
            “Hei, junior ada apa?” kata Gosa.
            “Apakah kau baik-baik saja?” Rafi bertanya.
Kemudian Dina pun menjelaskan kepada mereka;
            “Bisakah kalian lihat tanggal-tanggal pembunuhan yang terjadi secara berturut-turut? 31 Maret 2015, 04 April 2015, 08 April 2015, 12 April 2015 dan sekarang 16 April 2015?” jelas Dina.
            “Ya aku melihatnya. Apa yang salah dengan tanggal itu?” tanya Ketua Tim.
            “Maksudmu tanggal lah yang membunuh mereka? Gitu?” ledek Gosa.
            “Ya.” jawab Dina.
            (Gosa kaget ia berniat hanya meledek saja namun Dina mengiyakan)
            “Maksudmu?” tanya Rafi.
          “Dari setiap tanggal itu. Jika kita hitung, ia memulai aksinya pada akhir maret, kemudian empat hari kemudian ia memulai aksinya kembali, begitu juga seterusnya. Itu tandanya ia melakukan pembunuhan berantai setiap empat hari sekali dimulai pada tanggal 31 maret, tapi sebelum dia melakukan pembunuhan pada tanggal tersebut, berarti ia telah menyiapkan rencananya empat hari yang lalu dan jatuh pada tanggal 28 maret. Dan tepat pada hari ini kita menemukan korban pembunuhan yang terhitung empat hari setelah ia membunuh korban pada tanggal 12 April 2015.” Dina menjelaskan.
            (Senior terdiam mendengar penjelasan Dina)
            “Hei. Bisa saja ini sebuah kebetulan.” kata Rafi.
            “Kau benar.” Lanjut Gosa.
            “Tidak. Menurutku ini tidak sebuah kebetulan. Ini adalah pembunuhan berantai yang telah terencana oleh pelaku.” tegas Dina.
            “Bagaimana kau tahu?” tanya Frans.
            “X. Di semua leher korban terdapat tanda X yang meninggal pada tanggal tersebut.” jelas Dina.
            “Jadi maksud kamu, dia dengan sengaja meninggalkan tanda seperti ini agar kita dengan mudah mencari dia yang entah siapa itu dia?” tanya Rafi.
            “Yap.” kata Dina sambil membunyikan jarinya menandakan bahwa itu benar.
            “Dalam motif apa ia melakukan pembunuhan seperti ini.” Rafi bertanya-tanya.
            “Wah, bagaimana bisa kau sepintar ini. Pasti ini berkat senior mu seperti ku yang membantu mu begitu keras.” kata Gosa.
            (Frans hanya menatap Dina diam)
***
Di sebuah gedung SIMA Group, terlihat pegawai yang bekerja disana sangat kebingungan dan mondar-mandir karena mengetahui bahwa file penting yang dimiliki perusahaan itu telah hilang dan mereka berusaha menemukannya tetapi tidak berhasil ditemukan. Di saat yang bersamaan CEO Dion tiba. Ia mendapat panggilan dari sekretarisnya bahwa file yang berisikan data rencana penjualan dan anggaran akhir tahun ini telah hilang.
            “Bagaimana bisa hilang?” kata Dion panik.
            “Pegawai yang bertugas menjaga ruang penyimpanan juga tidak mengetahui hal ini. Mereka baru menyadari pagi tadi.” jelas Sekretaris Joe.
Mendengar penjelasan itu Dion segera berlari menuju ruang keamanan untuk mengecek CCTV yang terdapat ruang penyimpanan tersebut.
            “Apakah ada yang mencurigakan?” kata Dion berbicara kepada petugas keamanan.
            “Tidak ada pak. Tapi… ada yang aneh.” kata salah satu seorang petugas.
            “Aneh kenapa? Apa maksudmu?” kata Dion kesal.
            “Salah satu CCTV ini sepertinya tidak lengkap. Pada pukul 03:15 sampai 03:50 tiba-tiba menghilang. Sepertinya pelaku sengaja menghapus CCTV dibagian ketika ia sedang mencuri file tersebut.” jelasnya.
            “Maksudmu file itu dicuri?” tanya Sekretaris Joe.
            “Iya.”
            (Dion menghela napas)
            “Segera panggil pegawai yang bertugas di ruang penyimpanan ke ruangan ku.” kata Dion.
            “Baik pak.” Sekretaris Joe menjawab.
Dion segera menuju ke ruang kantornya. Disana ia mengeluarkan semua emosional nya. Vas bunga kesayangannya pun hancur dibanting olehnya. Semua pegawai yang berada di luar mendengar pecahan tersebut itu pun langsung ketakutan melihat bos nya bersikap menakutkan seperti monster. Sekretaris Joe tiba bersama salah satu pegawai yang bertanggung memegang kunci ruang penyimpanan.
            “Apa saja yang kau lakukan sampai tidak becus mengurus satu ruangan saja? Hah? Jawab!” kata Dion marah.
            (Pegawai tegang) “Maafkan saya pak. Tapi saya berani bersumpah kalau bukan saya pelakunya.” Katanya.
            “Sekarang, bukan saatnya kau berkata seperti itu. Apakah kau tahu seberapa penting file itu? File itu masa depan perusahaan ini. Perencanaan bahkan data anggaran pun hilang dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Apa yang akan kau lakukan dengan itu semua?” Dion kesal.
            “Maafkan saya pak. Maafkan saya.” Katanya sambil merunduk.
            “Hentikan. Saya beri waktu sampai besok pagi surat pengunduran diri anda sudah harus ada di meja saya. Sekretaris Joe segera hubungi kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.” Kata Dion.
***
Di tempat yang sepi dan gelap. Pegawai yang baru saja keluar dari ruangan Dion ternyata menemui seorang pria yang berpakaian jas hitam dan pria itu memberikan sebuah amplop kepada pegawai sambil berkata; “Kerja yang bagus. Kau tidak usah khawatir, saya akan bertanggung jawab atas pekerjaanmu”
***
Beberapa orang detektif mendatangi sebuah gedung SIMA atas laporan yang ia terima dengan kasus pencurian. CEO Dion dan Sekretaris Joe yang menyambut kedatangan mereka mengharapkan kerja samanya untuk menyelidiki kasus pencurian ini karena barang yang hilang bukan sekedar barang biasa. Frans, Rafi dan Gosa mengatakan mereka akan berusaha untuk menemukan pelakunya. Di saat pembicaraan sedang serius, tiba-tiba Dina datang sambil berlari dengan napas terengas-engas.
            “Maaf saya telat.” Katanya.
            “Hei junior, apakah kau tiap malam selalu berjaga hantu dirumahmu? Sampai kau tidak punya waktu untuk tidur? Astaga selalu saja.” Gosa berkata.
            “Tak hanya berjaga, aku juga minum-minum dengannya.” Jawab Dina meledek.
            “Isshh…” Gosa kesal dan Rafi tertawa kecil.
Dua mata saling melihat;
            “Kau (sambil menunjuk)” kata Dion dan Dina.
            “Apa yang kau lakukan disini?” kata Dion.
            “Apa yang kau lakukan disini?” kata Dina.
            “Ka, apakah dia penjahatnya? Kalau begitu ayo kita bawa ke kantor saja.” Dian menambahkan sambil menarik-narik baju Dion.
            “Hei hei. Kau menyentuh baju ku (sambil membersihkan dengan tangan). Kau jangan sembarangan bicara ya.” Jawab Dion.
            “Trus apa yang kau lakukan disini? Ah atau jangan-jangan kau menyerahkan diri kepada mereka dengan kasus tabrak lari yang kau lakukan padaku beberapa waktu yang lalu. Iya kan?” Kata Dina teriak.
            (Mereka yang mendengar pernyataan Dina pun terdiam dan menatap Dion tajam)
            (Dion tegang dan melihat wajah sekretarisnya yang juga ikutan melotot ke dirinya namun Dion melototi balik) “Maaf pak.” kata Sekretaris Joe.
            “Hahaha. Tabrak lari? Aku pikir kau salah mengenal orang, mana mungkin aku seperti itu. Hahaha.” Kata Dion sambil memaling-malingkan wajahnya dan membuat mereka berhenti menatap kepadanya.
            “Betul. Mana mungkin orang seperti dia melakukan kejahatan seperti itu.” sambung Gosa.
            “Kalian tidak percaya pada juniormu ini? Luka yang kalian lihat di lenganku itu ulah dia (menunjuk).” Dina Gerang.
            (Semua orang terdiam lagi dan mencurigai Dion, kemudian Dion menarik Dian untuk berbicara empat mata)
            “Apa yang kau bicarakan?” kata Dion.
            “Kenapa? Kau takut? Haha benar kau takut. Kelihatan dari wajahmu sangat ketakutan.” Jawab Dina tertawa geli.
            (Sementara Frans, Rafi, Gosa dan Sekretaris Joe penasaran dan berusaha untuk menguping)
            “Kau mau apa? Uang? Berapa banyak uang aku harus ganti rugi?” tanya Dion.
            (mendengar itu Dina diam sinis) “Apakah orang berduit selalu bertingkah seperti ini? Bahkan uang pun bisa membeli kejahatan yang dia lakukan untuk menutupinya. Luar biasa.” Dian menjawab.
            “Trus kau mau apa?” tanyanya kembali.
            “Permintaan maaf. Aku hanya ingin kau meminta ma…” belum selesai bicaranya, Dian terhenti ketika ia melihat sebuah kalung yang melingkar di leher Dion berbentuk huruf X. Huruf yang sama persis seperti tanda yang selama ini terdapat pada korban pembunuhan.
            “Hei hei.. Kau kenapa?” kata Dion sambil melambaikan tangannya ke wajah Dina yang bengong.
            “Hah? Tidak. Tidak apa-apa. Lupakan saja.” Jawab Dina lekas pergi ke rekan kerjanya berkumpul.
            (Mereka yang menguping berpura-pura sedang mengobrol)
            “Ayo kita pergi ka.” kata Dian sambil berjalan cepat keluar dari gedung perusahaan.
            “Terima kasih kami akan memberi kabar ke kalian.” kata Ketua Tim kepada Sekretaris Joe.
            “Baik. Terima kasih banyak.” Jawabnya.
***
Di perjalanan dalam mobil, Dina berpikir masih tak percaya bahwa kliennya itu memiliki tanda X pada kalungnya. Dia sempat berpikir apakah laki-laki itu pelakunya? Tapi buat apa orang kaya raya membunuh orang? Sangat tidak masuk akal. Senior nya yang melihat sikap Dian sangat takut karena setiap melihat wajahnya, matanya melotot.
            “Hei junior, ada apa? Wajahmu sangat me-menakutkan.” kata Gosa pelan.
            (Ketua Tim melihat Dian dari kaca yang menghubungkan ke arah bangku belakang)
            “Kau baik-baik saja?” sahut Rafi.
            “Tidak mungkin. Tidak mungkin dia. Tapi kenapa…” Dian berbicara sendiri.
            “Apakah dia tidak minum obat semalam?” kata Gosa berbicara kepada Rafi.
            “Apa yang kau lihat dari Pak Dion tadi? Ketika kau sedang berbicara berdua padanya?” Ketua Tim bertanya dan langsung menyadarkan Dian dari pikirannya.
            “Tidak aku tidak lihat apa-apa. Hum Ketua Tim, turunkan aku di depan sana. Mendadak aku punya urusan penting.” katanya.
            “Baiklah.”
            “Hei mau pergi kemana kau? Kita punya pekerjaan penting.” kata Gosa kesal.
            “Aku akan menyusul kalian ke kantor. Tenang saja.” Jawab Dina dan langsung berlari ke arah belakang dari turunnya mobil.
            (Mobil pun jalan kembali dan Ketua Tim melirik kepergian Dina dari kaca spion dengan wajah datar)
            “Lihat jalan ke depan ketua tim.” kata Rafi.
            “Oh ya. Maaf.” Jawabnya.
***
Dina berlari kencang dan masih memikirkan kalung yang dipakai Dion. Ternyata ia kembali ke rumahnya untuk melihat apakah tanda tersebut sama atau tidak seperti jejak pelaku. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah gelang bertanda X. Dengan cermat ia mengamati huruf tersebut dan ternyata pemikirannya benar. Tanda tersebut sama seperti jejak pelaku dan kalung yang dikenakan oleh Dion. Dina memasang wajah tak percaya. Tetapi ia tidak boleh mencurigai tanpa bukti yang kuat. Hanya sebuah tanda yang sama yang ia miliki bukan berarti ia pelakunya. Ini hanya sebuah kebetulan. Begitu pikirnya.
***
Di sebuah rumah yang besar, di dalam ruang kerja, Dion sedang duduk termenung sambil memikirkan sikap wanita detektif tadi yang tiba-tiba saja terdiam setelah melihat sesuatu dari dirinya. Dengan cepat tanggap Dion menyadari dan langsung memegang kalung di lehernya itu. Ia segera membuka laci dan mengambil sebuah buku X berwarna coklat itu. Dia pun perlahan membuka buku tersebut. Ternyata buku tersebut berisi daftar orang-orang yang di bunuh dan data tersebut sama seperti data yang dimiliki oleh pihak kepolisian bagian detektif. Pada lembar kertas terakhir ada sebuah tulisan bertuliskan, “Gunakan pedangmu jangan hanya kau sembunyikan. 31 days 7 Xtion.”

            “Apakah dia tahu sesuatu?” gumamnya.

~To Be Contined Part Two~

Thursday, 13 August 2015

(CERBUNG) High School: When2People Episode 2

Keesokan harinya, hari yang special bagi Vey. Bukan lain hari ini adalah hari kelahirannya, 31 July. Tidak bertemu dengan teman-teman karena kebetulan hari ini juga hari libur sekolah. berharap akan ada yang datang memberikan kejutan. Tapi di malam hari sebelumnya, handphone Vey dimatikan secara sengaja olehnya, karena dia menganggap dan mengira bahwa dihari ulang tahunnya itu tidak aka nada yang special. Vey pun hanya menonton drama kesukaannya yaitu drama korea. Benar dugaannya, di hari yang special ini pun ia tidak mendengar kata –selamat ulang tahun- termasuk dari keluarganya. Ayah, Ibu dan adiknya tidak memberikan selamat. Tapi ia tidak tahu bagaimana dengan teman-temannya, karena ia menon-aktifkan ponselnya dari semalam. Perasaan kecewa menghampirinya. Meluapkan isi hatinya melalui tulisan buku diary miliknya di dalam kamarnya. Ia bertanya-tanya “Apakah mereka tidak ingat? Hari ini merupakan tanggal aku dilahirkan. Keluargaku, temanku bahkan sahabatku. Mereka tidak ingat? Tidak bisakah mereka membuatku bahagia walaupun hanya sekedar ucapan?” tulis Vey dalam diarynya. Raka yang bahkan teman dekatnya pun sampai 12 jam hari ulang tahun belum mengucapkan selamat. Ponsel milik Vey dibiarkan tergeletak begitu saja diatas mejanya. Sesekali ia melirik ponselnya, berharap suara panggilan berbunyi. Ia tidak akan mengaktifkan handphonenya jika ia belum mendengar ucapan selamat ulang tahun dari keluarganya.
        “Kemana kalian pergi?” Vey berbicara dengan foto yang berisi ayah dan ibu kandungnya serta adiknya.
Vey menunggu hingga malam, ia belum juga mendengar ucapan yang dia inginkan. Akhirnya Vey memutuskan untuk keluar rumah mencari angin malam. Sambil ditemani headset putih mendengarkan lagu kesukannya Tiger. Berjalan seorang diri ditengah keramaian, sesekali menghela napas panjang sambil melihat sekelilingnya. Duduk disebuah taman, melihat kanan kiri merasa iri banyak orang berkumpul bersama tertawa bahagia. Ia melamun, sambil memandang langit dan berkata, “wah indahnya.” Tiba-tiba seorang laki-laki muncul, bergegas duduk disamping kanannya.
        “Apanya yang indah?” kata si cowok tersebut.
        “Hah” Vey kaget tiba-tiba ada orang yang tak dikenal duduk disampingnya.
        “Kenapa? Kaget ya?” jawab cowok itu.
        (mata melotot heran) “Hoh. (melepas headsetnya) maaf, siapa ya?” tanya Vey.
        “Ah Chiko. Nama gue Chiko” jawabnya memperkenalkan diri sambil berjabat tangan.
        “ohh ya” jawab Vey senyum heran.
        “Jangan terlalu lama memandang langit. Itu tandanya terlalu tinggi harapan.” Kata Chiko yang juga ikut memandang langit sekejap.
        (Vey melepaskan pandangan langitnya itu dan menatap Chiko)
        “Why? Lagi punya harapan tinggi tapi sampai sekarang belum terkabul?” Chiko menegaskan.
        (Vey melotot kaget) “Bagaimana……” jawab Vey sedikit takut.
        “Benerkan? Bener. Haha. Jelas keliatan dari wajah kamu sedang menunggu sebuah harapan yang tak kunjung datang” kata Chiko meledek.
        (Vey hanya diam, takut dengan orang yang tak dikenal tersebut)
        “Jujur, daritadi aku memperhatikan kamu dari sana (Chiko menunjuk tempat duduk sebelumnya yang ia duduki) kamu kelihatan sedih. Ternyata kamu sedih menunggu sebuah harapan. Harapan tentang apa? Pacar? Teman? Atau keluarga?” jelas Chiko sambil mendekatkan badannya ke Vey. Vey pun spontan menjauhkan dirinya.
        “Gak ada” jawab Vey singkat.
        “Yakin? Cerita aja gapapa. Aku siap dengerin curhatan kamu kok” Chiko mengajak.
        “Gak semua cerita yang aku punya, dapat aku ceritakan ke semua orang. Apalagi orang yang gak dikenal seperti kamu.” Kata Vey tegas sambil melirik Chiko tajam.
        “Oh gitu. Oke terserah kamu. Aku Cuma menawarkan diri. Karena aku tau rasanya menyediri itu gimana. Di saat-saat seperti itu yang kita butuhkan adalah seseorang. Bukan lagu mellow yang bikin suasana hati kita tambah sedih. Jangan terlalu sering melihat langit, dia memang cantik, mempunyai harapan tinggi memang sesuai untuknya. Tapi coba deh sesekali lihat ke laut, sesekali ia membawa derasnya ombak ke pinggir pantai, begitu juga dengan harapan.” kata Chiko bijak. Perkataannya membuat Vey terdiam dan pandangannya hilang, tangispun tak kuat ia tahan. Chiko yang sudah bersiap untuk bangun dari duduknya, Vey menahan dan menggenggam tangan Chiko sambil berkata, “Jangan pergi” (air mata menetes) “Lima menit. Lima menit aja.” Pinta Vey kepada Chiko untuk menemaninya malam itu.
***
Di kediaman rumah Raka, di ruang tamu. Raka beserta kedua orang tuanya sedang menerima tamu. Yakni rekan bisnis papa-nya yang juga bersama istrinya serta anak perempuannya, Katherin. Mereka saling memperkenalkan buah hati masing-masing. Dimana Raka sendiri sedang dilanda gelisah, karena ternyata secara diam-diam dia telah mempersiapkan hadiah kejutan untuk Vey. Selama ini ia tidak lupa dengan hari ulang tahun teman dekat yang dia dicintai itu. Ia hanya ingin membuat Vey kesal karena dirinya tidak memberikan ucapan dan membuat hadiah kejutan untuknya. Raka yang duduk diantara mama dan papanya, tiba-tiba izin pamit untuk keluar terlebih dahulu dengan alasan ada keperluan mendadak. Orang tua-nya pun mengiyakan, terkecuali Kath (sapaan Katherine), ia terlihat kesal karena ditinggal pergi olehnya membiarkan dirinya duduk diantara pertemuan bisnis orang tuanya. Raka berlari menuju rumah Vey sambil membawa hadiah kejutan yang disiapkannya. Terlihat bahagia dari pemilik wajah vampire tersebut. Tepat pukul 8 malam Raka berada di depan rumah Vey. Menunggu… dan menunggu. Duduk berdiri duduk berdiri untuk menghilangkan kebosanannya selagi menunggu Vey.
***
Di hamparan taman-taman dikelilingi bunga yang indah, Vey dan Chiko berjalan seusai percakapannya Chiko mendengarkan cerita Vey. Mereka berjalan berdampingan. Tiba-tiba Chiko melihat sebuah bunga merah yang bermekar indah dan sebuah korek api, “Tunggu disini” kata Chiko menyuruh Vey jangan pergi kemana-mana. Chiko pun berlari mengambil kedua benda tersebut. Setelah mengambil Chiko menghampiri Vey kembali, dan berkata;
        (sambil melihat jam tangan) “Masih ada waktu lima menit lagi sebelum hari ulang tahunmu berakhir.”
        (Chiko menyalakan korek apinya) “Make a wish!” kata Chiko.
Vey yang melihat tingkah laku Chiko hanya tersenyum dan berkata, “Oke” Vey menutup mata dan membuat permohonan di detik-detik sisa waktu di hari specialnya itu dan meniupkan api yang menyala itu.
        “Happy birthday.” Chiko berkata sambil memberikan bunga yang di petiknya itu.
        (Vey tersenyum) “Hem, thanks Chik” jawab Vey dengan menerima bunga pemberian dari Chiko. Vey dan Chiko akhirnya melanjutkan perjalanannya kembali.
***
Waktu menunjukkan pukul 23.57, Raka masih tetap menunggu kedatangan Vey. “Kenapa lo gak dateng?” Raka berbicara sendiri.
        “Raka kamu ngapain?” kata Mama Raka yang keluar dari rumah bersama rekan bisnisnya. Pertemuan itu telah selesai dan kedua orang tua Raka mengantarkan rekannya itu keluar.
        “Oh lagi nungguin Vey mah” jawab Raka sambil loncat-loncat mengintip kea rah rumah Vey.
        (Mama Raka menggeleng-geleng kepala)
        “Vey itu siapa tante?” tanya Kath.
        “Oh Vey itu teman dekatnya Raka. Mereka sudah berteman dari kecil.” Jawab mama Raka halus.
        “Ohh..” kata Kath yang melirik Raka dengan rasa penasaran ada apa dengan mereka berdua.
Akhirnya rekan bisnis kedua orang tua Raka pun pergi menggunakan mobil miliknya, disusul dengan kedua orang tua Raka masuk kembali ke dalam rumahnya sambil memberi pesan kepada anaknya untuk segera masuk ke dalam karena cuaca di luar sangat dingin. Tapi Raka sepertinya tidak mendengarkan perkataan mereka, ia sibuk menunggu Vey. Akhirnya Raka mengeluarkan ponselnya dan menelpon Vey, namun suara yang muncul adalah –nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan- (memang sedari tadi Vey mematikan ponselnya) Raka berkali-kali menelpon Vey, rasa khawatir juga datang kepada dirinya. Hingga pada akhirnya, datanglah seorang wanita dan laki-laki yang sedang berjalan bersama dari arah kiri diri Raka. Melihat hal itu, Raka langsung menghentikan panggilannya dan menunggu kedatangan Vey sampai ke hadapannya.
        “Udah datang?” kata Raka sambil menyembunyikan hadiah tersebut di belakang punggungnya.
        “Hhmm, lo ngapain disini?” tanya Vey heran.
        “Oh hhmm (Raka senyum-senyum dan perlahan ia mengeluarkan hadiahnya itu, namun sebelum ia berhasil menunjukannya kepada Vey, Chiko memotong pembicaraan diantara keduanya)”
        “Vey sampai disini dulu ya. Aku pamit pulang. Sekali lagi selamat ulang tahun.” Kata Chiko sambil mengelus kepala Vey.
        “Hm makasih buat malam ini Chik.” balas Vey.
Melihat pembicaraan mereka. Raka menjadi enggan untuk memberikan hadiah itu kepada Vey. Dalam hati Raka, ia bertanya-tanya siapa laki-laki itu, hingga kepergiannya pun Raka tetap memperhatikannya.
        (Vey menghadap Raka) “Ohiya ada apa Rak?” kata Vey sambil menunjukkan wajah senangnya kepada Raka.
        (Raka yang melihat betapa gembiranya wanita yang dicintainya itu pun, ia juga merasakan kebahagiannya)
        (Raka mengelus rambut Vey, namun di tangkis oleh Vey) “Seneng banget kayanya? Ada apa sih?” kata Raka sambil mengantongi hadiah tersebut ke dalam saku celananya.
        “Itu apa? (Vey melihat kotak kecil yang hendak dikantongi Raka)” tanya Vey.
        “Hm? Oh bukan apa-apa kok.” Jawab Raka sedikit kecewa.
        “Lo ga ngumpetin sesuatu dari gue kan?” tanya Vey lagi sinis.
        “Iya bener. Curigaan banget sih.” jawab Raka meyakinkan Vey.
        “Oke kalau gitu” kata Vey yang bergegas inginmasuk ke dalam rumah, tapi ditahan oleh Raka.
        “Eits eits nanti dulu. Buru-buru banget sih masuknya.” Kata Raka.
        “Capek. Mau tidur.” jawab Vey sinis sambil menangkis genggaman Raka dan berjalan menuju dalam rumah.
        “Selamat ulang tahun, Vey.” Kata Raka cepat sebelum Vey masuk ke dalam rumah sambil menatap.
Vey yang mendengar ucapan tersebut berhenti dari langkahnya. Ucapan yang ingin dia dengar dari 24 jam yang lalu baru ia dengar detik ini.
        “Walaupun udah lewat satu menit, happy birthday Vey. Gue ga akan lupa sama hari ulang tahun lo. Gue sengaja gak ngucapin ke lo sedari pagi karena mau bikin kejutan buat lo, malam ini. Tapi kelihatannya lo udah bahagia, lo udah seneng, itu melegakan buat gue. Jadi gue gak khawatir lagi kalo lo bakal marah sama gue gara-gara telat ngucapin. Gue gatau siapa laki-laki itu, tapi gue akan berterima kasih karena udah buat lo sebahagia ini. (sambil mengambil hadiah dari dalam sakunya) ini buat lo. Ini hadiah yang bisa gue kasih.” Kata Raka yang berbicara dari balik punggung Vey.
        (Vey hanya diam dan Raka memberikan hadiahnya itu ke genggaman tangan Vey) “Good night, Vey.” Kata Raka sambil masuk ke dalam rumah terlebih dahulu dan meninggalkan Vey di luar seorang diri.
Vey yang hanya diam tidak bergerak sama sekali pun hampir meneteskan air mata. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya, segera ia menyalakan ponselnya dan ternyata ada 25 panggilan tak terjawab dari Raka serta pesan yang berisi, “Vey dimana? Cepat keluar. Gue di depan rumah lo.” –Terkirim pukul 20:15-
Vey baru menyadari bahwa Raka menunggu dirinya selama empat jam, sedangkan dirinya sedang berbahagia bersama Chiko, seseorang yang baru dikenalnya malam itu. Vey melirik pemberian hadiah Raka dan membukanya, ternyata sebuah kalung yang berinisialkan nama Vey, jika diputar ke arah atas akan membentuk sebuah nama Raka. Sebuah kalung yang menyatukan nama mereka berdua. Raka memberikan kalung itu juga memiliki arti yakni bahwa mereka berdua tidak dapat dipisahkan layaknya burung merpati. Ya! Di kalung tersebut juga terdapat simbol burung merpati putih serta sebuah dadu kecil yang bertuliskan nama mereka.
***
Keesokan paginya, Vey bersiap-siap untuk berangkat bersekolah. Seperti biasa kedua orang tua Vey menunggunya di ruang makan. Ketika Vey tiba di ruang makan;
        “Pagi sayang.” kata mama Vey. (sambil menyodorkan sebuah kotak hadiah) ini hadiah buat kamu. Maaf mama telat. Selamat ulang ta….” belum selesai mamanya berbicara, Vey memotongnya.
        “Vey berangkat.” sambil berjalan keluar dan memakan roti.
Ketika berada diluar rumah, Vey melirik ke arah rumah Raka. Berharap Raka memberikan tumpangan lagi ke sekolah seperti pada waktu itu. Tetapi Vey tidak melihat sepeda yang biasa Raka tumpangi ke sekolah. Itu tandanya Raka sudah berangkat ke sekolah. “Pagi-pagi?” Vey berbicara dan bertanya kepada diri sendiri ada apa Raka berangkat pagi-pagi, tidak seperti biasanya. Akhirnya Vey berangkat ke sekolah sendiri naik bus.
***
Suara bising terdengar berasal dari kelas 12B. Beramai-ramai memasang balon-balon, ada yang menyiapkan sebuah kue ulang tahun, menggunakan topi kerucut dan memegang bendera bertuliskan ~Happy Birthday Vey~. Ternyata mereka mempersiapkan kejutan ulang tahun buat Vey.
        “Eh eh.. Vey datang.” teriak seorang laki-laki (teman) yang bertugas untuk menjaga pintu jikalau Vey sudah datang.
Mendengar berita itu, mereka segera bersiap-siap untuk memberikan kejutan. Ketika pintu terbuka, ternyata….. yang datang adalah guru Sam. Melihat itu, anak-anak mengeluh.
        “Pak guru, pak guru dateng disaat waktu yang gak tepat deh.” Lizzy berkata.
        “Ahh pak, seharusnya sms kita dulu atau apa kek kalo mau dateng. Lo juga Riz katanya Vey udah dateng.” kata Jupiter yang tiba-tiba naik ke punggung Fariz.
        “Aw aw berat Jup..” teriak Fariz keberatan.
        “Kalian ini ngapain?” tanya Pak Sam heran.
        “Kita lagi ngadain surprise birthday party buat Vey pak.” jelas Emma.
        “Sekarang Vey nya mana? Belom dateng kan?” kata Pak Sam lagi.
Tiba-tiba Vey datang dengan jalan santainya. Memasuki ruang kelas, sambil melihat sekelilingnya bahwa kelas penuh dengan balon, hiasan rumbe-rumbe seperti anak kecil dan juga kue, wajah Vey terlihat bingung dan diam dengan mata melotot serta bertanya-tanya ada apa.
        “Orangnya datang.” kata Yian.
        “Orang? Siapa?” tanya Vey kebingungan.
        “Kamu.” kata Pak Sam. “Mereka nyiapin pesta kejutan buat kamu.” jelas Pak Sam lagi.
        “Saya?” Vey menjawab.
        “Selamat ulang tahun Vey.” kata Lizzy dan Emma serentak mengucapkan sambil memberikan kuenya dan Vey pun meniup lilinnya. Semua bertepuk tangan.
        “Maaf ya Vey, kita telat ngasih surprise ke lo. Lo tau ga siapa yang udah bikin ide ini?” kata Lizzy. (Vey penasaran) “Rakaaaa….” teriak Emma sambil mengarahkan kedua tangannya ke hadapan Raka. Raka yang melihat Emma bertingkah berlebihan seperti itu hanya senyum-senyum malu dan hanya menatap Vey yang memegang sebuah balon di kanan tangannya. Begitu juga sebaliknya dengan Vey.
        “Sudah.. sudah.. sudah selesaikan? Sekarang kembali ke kursi kalian masing-masing. Bapak ada pengumuman penting. (Anak-anak kembali ke kursinya masing-masing) Vey…” panggil Pak Sam kepada Vey.
        “Iyaa pak?” jawab Vey.
        “Selamat ulang tahun. Sukses.” ucap Pak Sam dan segera berjalan menuju depan kelas untuk memberikan pengumuman. Vey-pun kembali ke kursinya.
        “Everybody, hari ini kita kedatangan murid baru, dan ini artinya kalian akan mendapatkan tambahan teman di kelas ini. Bapak harap kalian saling membantu untuk beradaptasi dengan dia.” kata Pak Sam. “Silahkan masuk.”
        (Murid barunya pun masuk kedalam kelas)
Seorang wanita cantik, berambut coklat, bertubuh tinggi langsing serta berkulit putih-lah yang memasuki kelas tersebut. Ternyata dia adalah Katherine. Anak dari rekan bisnis ayahnya Raka yang berkunjung ke rumahnya pada malam itu. Raka yang melihat kehadiran Kath sebagai murid baru di sekolahnya ini dan kini menjadi teman kelasnya sungguh membuatnya bingung dan terkejut, karena ia tidak pernah memberitahukan asal sekolah dia bersekolah dimana kepadanya.
        “Bagaimana mungkin dia disini.” Raka yang menatap tajam ke Kath, dan Kath pun juga begitu sambil memberikan senyum tipisnya ke arah Raka.
#Flashback
Selepas keluarga Kath kembali dari kediaman Raka, dan sesampainya dirumah, Kath segera berlari menuju kamarnya. Ia membuka laptop dan menyambungkannya ke internet. Ternyata ia mencari nama seseorang di sebuah situs yaitu Raka. Ketika ia sedang scrolldown, ia melihat sebuah foto Raka bersama perempuan, tak lain adalah Vey. Mengenakan pakaian sekolah ia berfoto selfie berdua di sebuah taman sekolah. Vey yang melihat foto tersebut;
        “Oh jadi ini Vey.” kata Kath.
Kath yang memperhatikan detailnya foto itu, ia tak sengaja melihat nama sekolah yang terlihat jelas dalam bet seragam mereka yaitu FAMA HIGH SCHOOL.
        “Raka, Vey, gue akan berdiri di tengah diantara kalian berdua.” kata Kath menatap tajam foto Raka dan Vey.
#FlashbackEnd
Vey yang melihat tatapan Kath mengarah ke Raka, langsung menciutkan senyumannya dan menoleh kepada Raka. Namun Raka juga sedang memperhatikan Kath. Vey sangat heran, ada apa dengan mereka berdua. Vey bertanya-tanya dalam dirinya, atau mungkin mereka berpacaran? Tapi ia tidak yakin, karena jika Raka mempunyai pacar, Vey adalah orang pertama yang mengetahuinya.
        “Silahkan perkenalkan diri kamu.” kata Pak Sam.
        “Baik pak. Hallo semua. Saya Katherine. Panggil saja saya Kath. Senang bertemu dengan kalian. Mohon bantuannya. Terima kasih.” jelas perkenalan Kath kepada teman-teman.
        “Pak, saya ingin bertanya kepada anak baru.” kata Jupiter.
        “Silahkan.”
        “Apa alasan beliau pindah ke sekolah ini?” tanya Jupiter membuat anak-anak lain tertawa karena mengucapkan kata ‘beliau’. Padahal Kath berusia sama dengannya tetapi Jup memanggilnya dengan sebutan beliau, karena beliau ditujukan kepada orang yang lebih tua darinya.
        “Saya awalnya tinggal dan bersekolah di Amerika. Tetapi papi saya mendapatkan tugas di Indonesia sehingga saya harus melanjutkan study saya di sini. Tak hanya itu, saya juga ingin mengenal seseorang.” jelas Kath sambil melirik ke arah Raka.
        “Oke. Sudah cukup ya. Silahkan Kath duduk di…” belum selesai Pak Sam berbicara Kath memotongnya.
        “Pak, bolehkah saya duduk bersama Raka?” kata Katherine yang membuat kesal dengan pernyataan itu termasuk Vey.
        “Hah? Dia pikir dia siapa.” kata anak-anak bergurau.
        “Siapa sih dia? Kayaknya kenal dekat dengan Raka. Vey lo kenal?” tanya Emma berbisik.
        “Engga. Gue gatau. Dan gue gamau tahu.” jawab Vey sinis sambil mengerutkan matanya dan masih melihat tingkah Kath tidak suka.
        “Tapi kursi Raka sudah diisi oleh orang lain.” kata Pak Sam.
        “Hm dia bisa pindah pak, ke kursi itu (sambil menunjuk ke arah kursi Vey).” Jawab Kath sembari memainkan wajah permohonannya.
-Ya. Kebetulan Vey duduk sendirian di kursi yang berisikan dua orang itu. Sebelumnya, teman sebangku Vey telah pindah ke sekolah lain. Jadi sampai saat ini Vey menduduki kursinya sendiri-
Melihat tingkah laku Kath yang semakin menjadi, menganggap sekolah ini diatur olehnya, wajah Vey langsung kaget drastis dan membuat teman-teman yang lainnya serentak memandang ke arah Kath.
        “Hahhh…..” kata salah satu anak perempuan yang juga ikutan kesal melihat sikap Kath.
        “Wow… amazing. Apakah Raka kenal dengan Kath?” tanya Hanny ke Jupiter.
        “Mungkin mereka sedang dekat.” jawab Jupiter meledek sambil melihat ke arah Raka, namun Raka masih saja memandang Kath dengan heran dan sinis.
        “Apakah mereka pacaran?”
        “Bisa jadi.. buktinya anak baru itu berani meminta duduk dengan Raka.” kata anak-anak yang sedari tadi masih bertanya-tanya siapa sebenarnya dengan anak baru itu.
Sedangkan disisi lain, Vey yang masih memperlihatkan wajah tidak sukanya itu menjawab, “Tidak masalah, silahkan.” kata Vey jutek.
Pernyataan Vey itu tentunya membuat teman-teman sekelasnya kaget, karena memperbolehkan orang baru di kelasnya itu duduk bersama dengan teman sejak kecilnya itu. Hal itu juga membuat Raka terkejut dan langsung menoleh ke arah Vey. Setelah Vey menyetujui kesepakatan itu, Kath langsung menghampiri bangku Raka yang berada di barisan paling belakang dan ia sempat melirik kepada Vey saat berjalan. Sedangkan teman sebangku yang tadinya duduk dengan Raka berpindah tempat ke kursi Vey. Sesampainya, Kath langsung duduk meletakkan tas nya dan menyapa Raka dengan lembut;
        “Hai Raka, kita ketemu lagi.” Kata Kath riang.
Raka hanya diam dan tidak merespon sama sekali sambutan hangat Kath. Justru dia mengalihkan pandangannya ke depan. Sesekali melirik Vey. Sedangkan Vey tetap fokus pada pandangannya yang sedari tadi mengarah ke depan kelas.
        “Sudah sudah.. anak-anak.. sekarang bapak harap kalian bisa menerima murid baru dengan baik. Dan tolong kerja samanya.” Kata Pak Han sembari pamit untuk keluar kelas.
Setelah Pak Han keluar kelas, Vey juga beranjak pergi ke luar kelas tanpa melirik kanan kirinya. Melihat hal itu membuat anak-anak kaget, mereka beranggapan jika Vey cemburu dengan Kath karena akan ada dua orang perempuan yang dekat dengan Raka.
        “Wahh.. Vey pasti cemburu ngeliat kejadian barusan.” salah satu temannya bergumam.
        “Keren, Raka nambah satu cewe cantik lagi di dekatnya. Aku juga mau dongggg.” ledek temannya lagi.
        (Raka hanya melihat kepergian Vey begitu juga dengan sahabatnya)
***
Di toilet, ada seorang gadis cantik sedang berkaca sambil mencuci tangannya. Ternyata itu adalah Vey. Dia memilih pergi dari kelasnya untuk menenangkan dirinya.
        “Ketemu lagi? Siapa sih dia? Berarti sebelumnya mereka pernah ketemu? Bukan.. bukan.. bukan pernah tapi sering. Hah, kenapa gue jadi ngurusin mereka sih. Tapi kenapa ada yang aneh sama diri gue. Gak gak gak mungkin……” kata Vey berbicara kepada dirinya sendiri melalui kaca. “Justru itu bagus dong buat Raka, dia udah nemuin cewek yang tepat dan ga lagi buntutin gue kemana-mana. Tapi ini… (memegang dadanya) kenapa….?” belum selesai perkataannya, ada seseorang yang datang dan memotongnya;
        “Kenapa? Jealous?” suara perempuan yang mengarah ke dalam toilet dan ternyata dia adalah Kath. Vey yang melihat kedatangannya dari arah kaca mendadak badmood. Dirinya lebih memilih pergi namun tertahan oleh perkataan Kath;
        “Jadi lo yang namanya Vey?” kata Kath dengan nada menantang.
        “Hai. (melambaikan tangannya) gue Katherine, calon tunangannya Raka.” kata Kath menambahkan.
Vey yang mendengar pernyataan Kath, sontak membuat dirinya tidak percaya. Dengan mata melotot kagetnya, ia terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang dikatakan oleh Kath itu memang kenyataan atau hanyalah bohongan semata untuk membuat dirinya kesal. Di balik dirinya, Kath hanya tersenyum sinis melihat wajah Vey yang sangat terkejut karena ucapannya tadi.
~To Be Continued~
Apa yang akan dilakukan oleh Vey terhadap Kath?

(CERPEN) Pertemuan Singkat

Di malam hari, keramaian terlihat di dalam bis ketika seorang gadis berdiri berpakaian minim yang membuat penumpang lain mengarahkan matanya ke arah dirinya. Mereka bergurau kalau ia bukanlah gadis yang baik-baik dan suka berpergian ke night club. “Dia cantik mengapa harus berpenampilan seperti itu, dasar tidak punya harga diri.” gerutu seorang wanita tua yang berada tepat di sampingnya. Mendengar perkataan wanita tua itu, gadis itu pun (Zoya) tidak tahu malu membalasnya dengan perkataan yang cukup kasar;
            “Apa kau bilang? Harga diri? Beraninya kau membicarakan harga diri. Hei wanita tua apakah kau tidak sadar kulit di wajahmu sudah mulai menurun akibat kau terlalu berisik berkomentar tentang orang lain. Apakah kau tidak takut jika suamimu tidak mencintaimu lagi?”
Orang-orang di sekitarnya pun terkejut mendengar perkataan Zoya. Bis pun berhenti di sebuah halte dan Zoya pun turun. Dan berkata lagi, “Sebaiknya kau cepat operasi plastik sebelum wajahmu berubah menjadi pokemon wanita tua.”
         Wanita tua itu pun membalas, “Beraninya kau gadis tidak tahu diri. Sialan kau.” Namun seorang laki-laki muda yang berada di depannya berusaha untuk menenangkannya.
           Sementara Zoya yang sudah turun, melangkahkan kakinya menuju sebuah bar yang dimana bar tersebut sering di datangi oleh pengusaha-pengusaha muda kaya raya untuk berfoya-foya dan tentunya sangat menguntungkan bagi pemilik bar termasuk juga bagi Zoya sebagai pegawai dengan gaji yang cukup besar. Ia bertugas untuk mengantarkan minuman kepada pelanggan. Namun, sesekali ada juga laki-laki nakal yang tergoda dengan kecantikan Zoya dan mengajak dirinya untuk bermalam bersamanya dengan bayaran yang fantastis. Zoya pun menyutujuinya.
            Pada suatu hari, Zoya menerima tawaran dari pelanggan untuk menemaninya di sebuah hotel selama satu malam. Pada saatnya tiba, ia sudah berada di sebuah kamar hotel VVIP. Apa saja yang mereka perbuat?
***
            Di sebuah lobbi hotel yang mewah, terlihat seorang pria tampan mengenakan jas. Ternyata ia adalah pemilik hotel ini dan ternyata ialah sosok laki-laki yang menenangkan wanita tua di bis waktu itu (Lukas). Dia sedang berbicara kepada karyawannya mengenai penyewaan kamar VVIP. Namun karyawannya itu pun merasa aneh dan menjelaskan bahwa orang yang menyewa kamar VVIP itu adalah seorang pria yang berbeda tapi selalu membawa wanita yang sama. Lukas yang heran mendapat informasi itu pun penasaran siapa gadis sama itu. Tak lama kemudian, penyewa kamar VVIP pun keluar melewati lobbi. Salah seorang karyawan melapor dia adalah orangnya. Lukas yang samar-samar dimana ia pernah melihat gadis itu pun akhirnya ingat bahwa ia melihatnya di dalam bis dengan perilaku yang sangat sembrono.
***
Zoya kembali ke club untuk melanjutkan pekerjaannya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Namun club itu justru ramai ketika tengah malam. Tiba-tiba seorang pria tampan datang menghampiri Zoya. Bukan lain adalah Lukas.
            “Apakah kau sedang sibuk?” tanya Lukas.
            “Tidakkah kau lihat aku sedang bekerja.” jawab Zoya tegas.
           “Bagaimana bisa wanita cantik sepertimu menjadi pelayan di club seperti ini, bahkan melayani pria juga.” kata Lukas menyindir.
            “Apa yang kau katakan? Apakah salah jika seorang gadis bekerja di sebuah club malam?” tanya Zoya.
            “Apakah kau tidak melihat? Di sekelilingmu rata-rata pria. Dan bukan sembarang pria, tapi pria dengan segudang harta.” Lukas menjawab.
            “Apa maksudmu? Apakah kau juga menawariku untuk bermalam denganmu? Cepat katakan saja jika itu maumu.” jawab Zoya.
            “Aku tahu kau pasti gadis pintar. Ini kartu namaku. Segera hubungi ku jika kau sudah tahu berapa banyak uang yang harus ku keluarkan untuk bermalam denganmu.” Lukas menyombong.
            “Tidak harus menghubungimu. Sekarang pun aku sudah dapat jawabannya.” jawab Zoya.
            “Berapa?”
            “Kamu. Aku tidak ingin uangmu, tapi dirimu. Cukup kau bercinta denganku. Bagaimana?” jawab-an Zoya mengagetkan Lukas.
            “Di-diriku? Kau ingin diriku? Wah, apakah kau selalu seperti ini jika ada seorang pria yang mengajakmu untuk bermalam dengannya. Bercinta? Kau tidak hanya dapat uang, tapi kau juga akan  kehilangan berlianmu.” kata Lukas.
         “Kenapa? Kau tidak berani? Buat apa kau mengajakku bermalam bersama jika tidak melakukan apa-apa. Itu tidak menarik.” jawab Zoya.
           “Kau kira aku anak kecil. Oke deal. Besok malam kau ku jemput disini jam 10 malam.” Lukas menjawab.
       “Oke. Tidak masalah.” kata Zoya yang pergi meninggalkan Lukas sendirian untuk mengantarkan minuman ke pelanggan.
***
Keesokan harinya, Lukas termenung di ruang kantornya memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti malam. Apakah ia harus benar-benar melakukannya? Sedangkan Zoya terlihat begitu santai dan tidak terlalu memikirkan. Dia hanya fokus pada pekerjannya. Tibalah waktu yang dinantikan. Lukas pun menjemput Zoya di club. Sesampainya di club, Zoya terlihat anggun dengan minidressnya dan berdiri menunggu kedatangan Lukas. Lukas pun turun dari mobilnya dan membukakan pintunya untuk Zoya. Di dalam perjalanan mereka berdua terlihat sangat tegang. Sesekali mereka mencuri pandang.
Tiba di sebuah hotel mewah, dan hotel ini bukanlah milik Lukas mereka pergi ke hotel lain. Kemudian mereka check in dan bergegas untuk masuk ke sebuah kamar VVIP. Akhirnya mereka pun masuk ke kamar. Zoya yang berjalan lebih dulu berkata, “Wah bagusnya.” Lukas pun heran dengan tingkah lakunya.
            “Apa yang kau katakan?” tanya Lukas.
            “Hah? Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa.” jawab Zoya.
Zoya pun bertanya, “Apa yang akan kau lakukan jika kita bercinta dan aku mengandung anak darimu?”
            “Apa maksudmu?” tanya Lukas.
            “Jawab.”
            “Karena aku sudah melakukannya. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu.” jawab Lukas.
            “Apakah kau yakin?” tanya Zoya.
            “Ya. Memangnya kenapa?” tanya Lukas balik.
            “Tidak. Tida apa-apa.” jawab Zoya menyembunyikan wajahnya.
            “Haruskah kita mulai sekarang?” kata Lukas.
            “Hah? Oh baiklah.” jawab Zoya gugup.
Akhirnya mereka berdua pun perlahan-lahan membuka satu demi satu kancing kemejanya. Lukas melepaskan kemejanya dan bertelanjang dada. Zoya juga melepaskan baju nya dan hanya mengenakan kaus tak berlengan ketat. Perlahan Lukas mendekatkan diri ke Zoya dan langsung mendorongnya ke atas kasur. Lukas pun semakin mendekatkan bibir nya ke bibir Zoya. Sangat dekat. Ketika ingin bersentuhan, Lukas menjauh secara tiba-tiba dan melihat mata Zoya dalam keadaan tertutup dengan wajah yang sangat tegang.
            “Bukalah matamu.” Lukas menyuruh.
            “Apakah kita sudah selesai?” tanya Zoya masih dalam keadaan yang sama.
            “Sudah.” jawab Lukas.
            (Zoya membuka mata) “Benarkah? Tapi aku tidak merasa jika kau menyentuh tubuhku.”
            “Apakah aku harus bercinta dengan seorang gadis yang telah memintaku untuk melakukannya namun ia sendiri pun tidak bisa melakukannya?” tanya Lukas.
            (Zoya merunduk)
            “Kau sudah bekerja keras. Kau sebenarnya takut tapi kau berlagak berani.” tambah Lukas.
            “Kau benar. Sejujurnya aku takut. Apakah kau tahu ini pertama kalinya bagiku untuk melakukan hal bodoh seperti ini?” kata Zoya.
            “Maksudmu?”
        “Apa kau pikir, dengan ku pergi ke sebuah hotel bersama pria-pria pelangganku itu untuk bercinta? Kau salah. Mereka memang memintaku untuk bercinta tapi aku menolaknya. Aku hanya mengincar uang yang mereka tawarkan dan memohon kepadanya untuk meminjamkanya kepadaku. Jumlah yang mereka tawarkan padaku cukup besar. Jadi itu bisa… bisa… menyicil hutang-hutangku yang sudah terlalu banyak.” Zoya menjelaskan.
            “Hutang? Hutang apa? Kau bodoh atau apa. Bagaimana kau bisa merelakan dirimu pergi bersama pria yang jelas-jelas kau tidak tahu siapa dia dan dia berniat jahat atau tidak?” Lukas mengomel.
            “Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya memiliki satu harta yaitu berlianku. Terima kasih, karena kau telah menjaga berlianku Tuan.” jawab Zoya menatap Lukas dengan mata berkaca-kaca.
            “Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Lukas.
            “Mereka meninggalkanku.”
            “Temanmu?” tanya Lukas lagi.
           “Mereka mengkhianatiku. Aku tidak punya siapa-siapa untuk ku percaya di dunia ini.” jelas Zoya.
            “Apakah Tuan tahu? Saat ini aku merasa bahagia sekali karena bertemu dengan seseorang yang dapat ku ajak bicara. Itu adalah kau. Kau sangat baik tuan. Aku senang bisa bertemu denganmu.” Zoya menambahkan.
            (Lukas tersenyum) “Aku juga senang bisa bertemu denganmu untuk yang ketiga kalinnya.”
            “Tiga kalinya?” tanya Zoya heran.
            (Lukas mengangguk) “Apakah kau tidak ingat? Kejadian di bis pada waktu itu, saat kau beradu mulut dengan wanita tua. Aku berada disampingnya. Melihat sikap kau yang seperti itu, aku yakin kau adalah gadis baik-baik tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang di luar sana.” Lukas menjelaskan.
            (Zoya tertawa kecil) “Aku menyesal telah mengatakan perkataan yang sangat kasar kepada wanita tua itu. Sungguh menyesal. Rasanya aku ingin meminta maaf kepada beliau (mengehela napas). Pada saat itu aku sangat lelah jadi tidak bisa mengontrol emosionalku.”
            “Bolehkah aku menanyakan satu pertanyaan untukmu?” tanya Lukas.
            “Apa?”
            “Apakah kau akan terus bekerja di tempat seperti itu?”
            “Ya. Mencari pekerjaan jaman sekarang sangatlah sulit. Tidak ada pilihan lain selain aku bekerja seperti ini.” jawab Zoya.
            “Jika… ku meminta kau berhenti dari pekerjaan itu, apakah kau akan berhenti?” tanya Lukas kembali.
            (Zoya kaget) “Apa maksudmu? Jika ku berhenti harus ku bayar pakai apa semua hutang-hutangku?” jawab Zoya.
            “Menikahlah denganku. Aku akan melunasi semua hutang-hutangmu.” Lukas menjawab tegas.
            “Apa? Apakah kau bercanda?” jawab Zoya.

            “Tidak. Aku tidak bercanda. Pria yang sedang berdiri di hadapanmu ini sedang melamarmu.” kata Lukas.
(Zoya menatap Lukas) “Aku hanya takut. Jika kau tidak serius padaku. Pertemuan kita sangatlah singkat. Aku belum mengenal dirimu dan kau juga belum mengenal diriku.”
            “Kau salah. Aku sangat sudah mengenal dirimu. Kau adalah seorang gadis cantik yang bekerja keras untuk merubah kehidupanmu menjadi lebih baik. Sayangnya. langkah yang kau ambil tidaklah tepat. Tapi sejujurnya, aku sangat kagum dengan dirimu karena kau mempunyai mental keberanian yang sangat tinggi, Zoya.” Lukas memujinya.
            “Bagaimana kau tahu namaku?” Zoya terkejut.
            (Lukas hanya tersenyum)
            “Entahlah. Aku juga bertanya-tanya kepada diriku sendiri, mengapa aku mengambil langkah seperti ini.” jawab Zoya lesu.
            “Apakah kau tidak akan menjawab tawaran ku?” tanya Lukas.
            “Tawaran? Tawaran apa?” Zoya bertanya balik.
            “Menikahlah denganku.”
            “Terima kasih karena kau sudah percaya denganku, sebagai gantinya aku juga akan percaya denganmu (Zoya mengangguk tersenyum).”